I’tikaf pada 10 hari terakhir Ramadhan

I’TIKAF

I’tikaf dalam bahasa Arab berarti iqomah (berdiam). Setiap yang disebut berdiam di masjid dengan niatan mendekatkan diri pada Allah, maka dinamakan i’tikaf, baik dilakukan dalam waktu singkat atau pun lama.

Lamanya waktu I’tikaf

Banyak umat Islam yang mengupayakan waktunya untuk melakukan itikaf. Misal, malamnya itikaf di masjid dan siangnya kembali bekerja. Hukum melakukan seperti itu adalah di perbolehkan. Jumhur ulama berpendapat minimal waktu i’tikaf adalah lahzhoh, yaitu hanya berdiam di masjid beberapa saat. Demikian pendapat dalam madzhab Abu Hanifah, Asy Syafi’i dan Ahmad.

Imam Nawawi berkata, “Waktu minimal itikaf sebagaimana dipilih oleh jumhur ulama cukup disyaratkan berdiam sesaat di masjid. Berdiam di sini boleh jadi waktu yang lama dan boleh jadi singkat hingga beberapa saat atau hanya sekejap hadir.”

I’tikaf pada 10 hari terakhir Ramadhan

I’tikaf di masjid selalu dilakukan Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.

Diriwayatkan Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ juga mengencangkan ikat pinggang saat i’tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.
Mengencangkan ikat pinggang artinya Rasulullah tidak mencampuri istri-istrinya. Rasulullah meningkatkan ibadahnya serta fokus pada ibadahnya.
Sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan merupakan puncak ibadah selama Ramadhan. Itu sebabnya di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, Rasulullah meningkatkan ibadahnya. Artinya di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan sudah mendekati finish atau akhir Ramadhan.
Maka, kita, umat Islam harus sungguh-sungguh melaksanakan ibadah untuk mencapai akhir dengan sebaik-baiknya.

Bahwa Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَ beri’tikaf pada 10 hari terakhir, haditsnya adalah sebagai berikut :

حَدِيْثُ عَا ءِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا، زَوْجِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ
كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ ، حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّه ، ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ

728.  ‘Aisyah r.a. berkata: Biasa Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ beri’tikaf pada malam-malam sepuluh terakhir Ramadhan hingga wafatnya, kemudian dilanjutkan oleh istri-istrinya sepeninggalan beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَ.  (Bukhari Muslim)

 

ads

Comments

  1. ahmad says:

    Semoga Ramadhan ini adalah Ramadhan terbaik untuk kita semua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *