kurikulum ramadhan

3 Kurikulum Ramadhan Nabi SAW



Kurikulum Ramadhan. Kita semua mengetahui bahwa Allah SWT di dalam Al Quran Surat Al-Baqarah ayat 183 telah mewajibkan orang-orang yang beriman untuk berpuasa di bulan Ramadhan.

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya : Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.

dikutip dari Tafsir as-Sa’di | Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, pakar tafsir abad 14 H :

183. Allah mengabarkan tentang segala yang Dia karuniakan kepada hamba-hambaNya dengan cara wajibkan atas mereka berpuasa sebagaimana Allah telah mewajibkan puasa itu atas umat-umat terdahulu, karena puasa itu termasuk di antara syariat dan perintah yang mengandung kemaslahatan bagi makhluk di setiap zaman.
Puasa juga menambah semangat bagi umat ini yaitu dengan melompat lomba dengan umat lain dalam menyempurnakan amal perbuatan dan bersegera menuju kepada kebiasaan-kebiasaan yang baik, dan puasa itu juga bukanlah suatu perkara sulit yang khusus bagi kalian.
Kemudian Allah menyebutkan hikmah disyariatkannya puasa seraya berfirman, “Agar kamu bertakwa,” karena sesungguhnya puasa itu merupakan salah satu faktor penyebab ketakwaan, karena berpuasa dalam merealisasikan perintah Allah dan menjauhi laranganNya.



Dan diantara bentuk yang meliputi ketaqwaan dalam puasa itu adalah bahwa orang yang berpuasa akan meninggalkan apa yang diharamkan oleh Allah seperti makan, minum, melakukan Jima, dan semacamnya yang sangat diinginkan oleh nafsunya dengan maksud mendekatkan diri kepada Allah seraya mengharapkan pahala dalam meninggalkan hal tersebut. Ini merupakan bagian ketakwaan.
Dan diantaranya juga adalah bahwasanya orang yang berpuasa itu melatih dirinya untuk selalu merasa diawasi oleh Allah, maka dia meninggalkan apa yang diinginkan oleh nafsunya padahal dia mampu melakukannya karena dia tahu bahwa Allah melihatnya.
Yang lain bahwasanya puasa itu mempersempit jalan masuk setan, karena setan itu berjalan dalam tubuh manusia seperti jalannya darah, maka puasa akan melemahkan pengaruhnya dan meminimumkan kemaksiatan.



Diantaranya juga bahwa seorang yang berpuasa biasanya akan bertambah ketaatannya, dan ketaatan itu adalah gambaran dari ketakwaan.
Yang lainnya lagi adalah bahwa orang yang kaya bila merasakan susahnya kelaparan, pasti ia menghibur kaum miskin, dan ini pun termasuk gambaran ketakwaan.
Referensi : tafsirweb.com

3 Kurikulum Ramadhan Nabi SAW



Ustadz Dr. Adi Hidayat, Lc., MA. dalam live streaming di Youtube pada hari Sabtu tanggal 4 Maret 2023, di Masjid An-Nur Tanah Kusir Jakarta Selatan, menyampaikan, untuk bisa memperoleh tujuan dari Shiam Ramadhan, itu harus disikapi dengan serius. Dan keseriusan itu harus direncanakan sejak awal, sebelum masuk Ramadhan. Yaitu dengan menyusun Kurikulum Ramadhan.

UAH menyampaikan, bahwa Ayat tentang perintah berpuasa di Bulan Ramadhan itu, datang di Bulan Sya’ban.




Kata beliau, “Yang jadi problem adalah apakah ada visi berkelanjutan yang sifatnya kontinyu sampai akhir mempertahankan rahmat Allah itu? Hal yang paling penting (yang perlu) kita garisbawahi, (bahwa) Allah sudah turunkan Rahmat Nya di awal Ramadhan, dan (harus) pertahankan itu sampai akhirnya”

“Itulah sebabnya kenapa ayat pembuka ini turunnya di bulan Sya’ban. Kenapa ayat puasa turunnya di bulan Sya’ban bukan di bulan Ramadhan? Agar nabi punya keluangan waktu menyampaikan kurikulum Ramadhan, program program Ramadhan, bagi seluruh umatnya. Baik di kalangan sahabat pada masa itu ataupun umatnya di masa kini, agar punya kesiapan menunaikan ibadah Ramadhan, sehingga bisa stabil dari awal sampai akhirnya dan mendapatkan hasil seperti yang diinginkan.”



Kurikulum Ramadhan Pertama : Meningkatkan Sholat

Disampaikan oleh Ustadz Dr. Adi Hidayat, Lc., MA. bahwa ibadah pokok yang melatih dan membuat kita semakin baik adalah sholat. Maka kurikulum Ramadhan pertama adalah memperbanyak sholat.

Peningkatan shalat tidak hanya terkait dengan kualitas ibadah sholat saja, tetapi juga jumlah ibadah sholatnya. Peningkatan berarti peningkatan jumlah sholat sunnah yang bisa dilakukan, selain sholat wajib 5 waktu tentunya.




Peningkatan dan memperbanyak jumlah sholat ini harus menjadi kurikulum Ramadhan yang sudah harus direncanakan sebelum Ramadhan tiba.

Berdasarkan penjelasan Ustadz Adi Hidyat, ada 2 jenis sholat sunnah yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, yaitu : Sholat Sunnah Rawatib, dan yang kedua, Sholat Sunnah Mutlak.

BACA JUGA: Bacaan Sholat Rasulullah




Sholat Sunnah Rawatib

Sholat sunnah rawatib adalah sholat sunnah yang mengiringi shalat fardhu. Rawatib bertujuan untuk memperbaiki atau menyempurnakan kekurangan yang ada pada sholat fardhu yang dilakukan.

Sholat Rawatib sendiri, ada yang dilakukan atau dikerjakan sebelum sholat fardhu dan ada yang dikerjakan setelah sholat fardhu.

Dalam satu hari satu malam, ada sebanyak 12 rakaat sholat Rawatib, sesuai dengan hadits Rasulullah SAW dari Ummu Habibah, bahwa jumlah sholat rawatib adalah sebanyak 12 rakaat yang kemudian penjelasan lebih rincinya diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan An-Nasa’i,

Dari Aisyah radhiyallahu anha, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, “Barang siapa yang tidak meninggalkan dua belas rakaat dalam saat shalat sunnah rawatib, maka Allah akan bangunkan rumah di surga, yaitu sebanyak empat rakaat sebelum dzuhur, dua rakaat sesudahnya, dua rakaat sesudah maghrib, dua rakaat sesudah isya, serta dua rakaat sebelum subuh“. (HR. At-Tirmidzi dan An-Nasa’i).




Jadi, 12 rakaat itu terdiri 2 rakaat sebelum subuh, 4 rakaat sebelum dzuhur, 2 rakaat setelah dhuhur, 2 rakaat setelah maghrib, 2 rakaat setelah Isya. Namun, kata UAH, jika mampu, maka bisa 4 rakaat sebelum dhuhur dan boleh 2 rakaat saja.

Sebaiknya sebelum masuk Ramadhan, sholat sunnah Rawatib ini sudah masuk dalam agenda kurikulum Ramadhan tahun ini dan tahun-tahun selanjutnya. Istiqomah dalam mengerjakannya sejak awal Ramadhan hingga Ramadhan pergi meninggalkan kita.




Sholat Sunnah Mutlak

Selain sholat sunnah rawatib, terdapat juga sholat sunnah mutlak. Dari sisi waktunya, ada sholat mutlak yang berdampingan dengan sholat fardhu, dan ada juga sholat mutlak  yang terpisah dari sholat fardhu.

Adapun contoh sholat sunnah mutlak yang berdampingan shalat fardhu adalah sholat 4 rakaat yang dikerjakan sebelum sholat Ashar. Ini terdapat dalam hadits riwayat Abu Daud.

Sedangkan contoh sholat mutlak yang terpisah dari atau tidak mengiringi sholat fardhu adalah sholat di antara dua adzan dan iqamah, tahiyatul masjid, dan shalat dhuha.

kurikulum ramadhan

Untuk sholat dhuha sendiri, berdasarkan waktunya  ada 3 macam, yaitu, awal dhuha atau syuruq sebanyak 2 rakaat, yang jika dilakukan dengan didahului i’tikaf di masjid setelah sholat subuh hingga datangnya syuruq, maka akan mendapatkan pahala seperti umrah dan haji, sempurna, sempurna, sempurna.



Pertengahan dhuha, waktunya kurang lebih antara jam 08.00 sampai dengan jam 10.00. Jumlah rakaatnya bisa 2 rakaat sampai 4 rakaat. Shalat dhuha ini berfungsi untuk mengganti seluruh dzikir yang ada dalam tubuh manusia, serta bisa menghentikan atau menahan musibah secara umum.

Sedangkan pada waktu akhir dhuha, yaitu pukul 10.00 hingga menjelang waktu zuhur, bisa dilakukan 2 rakaat atau 8 rakaat. Shalat ini mempunyai keutamaan mempermudah rezeki dengan izin Allah ketika berikhtiar.

Selain dhuha, Jangan dilupakan juga shalat malam, atau qiyamul lail.




Kurikulum Ramadhan Kedua : Meningkatkan Interaksi Dengan Al-Qur’an

Khusus di Bulan Ramadhan, harus ada kurikulum Ramadhan untuk peningkatan interaksi dengan Al-Qur’an.

Ada dua cara berinteraksi dengan Al-Qur’an. Pertama, dengan membaca Al-Qur’an atau qiro’ah. Membaca Al-Qur’an bisa dilakukan setiap sebelum dan sesudah shalat.
“Jika kita menginvestasikan waktu kita 10 menit, setiap waktu shalat fardhu untuk membaca Al-Qur’an, insyaAllah selesai Ramadhan kita khatam Al-Qur’an,” ucap UAH.




Kedua, dengan mengikuti Kajian Al-Qur’an atau tilawah. Keutamaan dalam tilawah ini adalah selama mengaji, rahmat Allah dibentangkan. Jika ingin berdoa maka akan cepat dikabulkan. Allah akan mengampuni dosa orang yang beristighfar dan akan diberikan ketenangan jiwa.

BACA JUGA: tadarus alqur’an

Kurikulum Ramadhan Ketiga : Meningkatkan Amalan Harta



Rasulullah SAW merupakan manusia paling dermawan dan lembut, serta bertambah kedermawanannya saat Ramadhan.

Siapkan Infaq Ramadhan sejak sebelum masuk bulan Ramadhan. Jadikan Infaq dan amalan harta lainny, sebagai kegiatan di dalam kurikulum Ramadhan.

“Jangan berpikir banyak, yang penting ada anggaran, 30 ribu juga tidak masalah. Tidak harus pakai uang, makanan juga tidak apa-apa,” tutur UAH




Hal tersebut terdapat di dalam riwayat At-Tirmidzi: “Barangsiapa memberi berbuka (makan) orang yang berpuasa, walaupun satu butir kurma, seteguk air atau segelas susu, maka ia memperoleh pahala seperti pahala orang yang berpuasa tanpa mengurangi sedikit pun pahala orang yang berpuasa itu.”

BACA JUGA: Fadilah Shodaqoh

Semoga dengan ringkasan singkat mengenai Kurikulum Ramadhan ini, dapat menjadikan kita lebih serius dalam menghadapi Ramadhan, sehingga Ramadhan akan membawa kita menuju status Manusia yang Bertaqwa.

Aamiin Yaa Rabbal’alamiin.

 

 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top
Scroll to Top