kasus KDRT

6 Solusi Islam pada Kasus KDRT






Akhir-akhir ini di masyarakat kita sering terdengar terjadinya kasus KDRT atau kekerasan dalam rumah tangga. Pelakunya rata-rata masih ada hubungan dekat dengan korbannya. Kasus KDRT ini menjadi viral karena pelakunya banyak dari kalangan publik figur, baik artis, selebgram atau pesohor. Tak ayal kasus tersebut menjadi konsumsi media, baik cetak, elektronik maupun online plus medsos, sehingga begitu heboh seantero negeri.

Setelah kasus KDRT terjadi antara artis berinisial RB dan LK yang berujang pada penyelesaian hukum, kemudian muncul lagi kasus KDRT yang dilakukan oleh pesohor FI terhadap istrinya, VM. Lalu muncul lagi kasus KDRT yang dilakukan oleh artis inisial RD terhadap istrinya, SR. Itulah kasus-kasus KDRT yang terekspos oleh media karena kebetulan subyek dan obyeknya adalah para pesohor. Tapi di kalangan masyarakat biasa mungkin saja ada beberapa kasus KDRT yang tidak sempat terekspos.



Intinya, kata Komnas Perempuan, kasus KDRT di Indonesia belakangan ini sangat marak. Pada 2021 Komnas menerima pengaduan langsung 771 kasus kekerasan terhadap istri atau 31% dari laporan sebanyak 2.527 kasus kekerasan rumah tangga. Lalu kekerasan mantan pacar dan kekerasan dalam pacaran masing-masing 813 kasus dan 463 kasus. Serta menerima 225 kasus kekerasan di lembaga pendidikan, di antaranya kekerasan seksual.





 

Apa itu Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT)?

Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) adalah suatu bentuk tindakan kekerasan yang terjadi dalam hubungan rumah tangga antara pasangan suami-istri atau antara anggota keluarga lainnya, seperti antara orang tua dan anak. KDRT bisa mencakup berbagai tindakan kekerasan fisik, psikologis, seksual, dan ekonomi.

Contoh dari tindakan kekerasan fisik dalam KDRT meliputi pukulan, tendangan, gigitan, belaian, pemukulan dengan benda, atau tindakan yang mengakibatkan cedera fisik pada korban. Tindakan kekerasan psikologis bisa meliputi pelecehan verbal atau psikologis seperti penghinaan, ancaman, dan kontrol yang berlebihan.



Tindakan kekerasan seksual meliputi pemaksaan terhadap pasangan atau anggota keluarga lainnya dalam hal-hal seperti hubungan seksual atau perilaku seksual lainnya tanpa persetujuan. Sementara itu, tindakan kekerasan ekonomi dapat meliputi penyalahgunaan keuangan, pengendalian terhadap akses pasangan atau anggota keluarga lainnya pada sumber daya finansial atau penghentian penghasilan pada pasangan atau anggota keluarga lainnya.

KDRT memiliki dampak serius pada korban dan keluarganya, termasuk kerusakan fisik dan emosional, trauma, dan kehilangan kepercayaan diri. Semua bentuk KDRT harus ditangani dengan serius dan secepat mungkin, dan semua orang harus memainkan peran untuk membantu korban menghindari kekerasan atau memperoleh bantuan jika telah terjadi.



Kenapa Sering Terjadi KDRT?

Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) bisa terjadi karena berbagai alasan, namun pada umumnya, penyebabnya melibatkan faktor-faktor yang kompleks dan beragam. Berikut adalah beberapa faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya KDRT:

Faktor psikologis:

Kekerasan dapat terjadi karena perasaan tidak terkendali, rasa frustasi, rasa tidak berdaya, atau rasa tidak dihargai.

Faktor ekonomi:

Ketidakmampuan finansial, masalah pekerjaan, dan kemiskinan dapat memicu kekerasan.



Faktor lingkungan:

Kondisi lingkungan yang tidak aman dan perasaan tidak aman dalam rumah tangga dapat menyebabkan kekerasan.

Faktor budaya:

Budaya patriarki, yang menempatkan laki-laki sebagai kepala keluarga dan memiliki kontrol atas anggota keluarga lainnya, dapat menyebabkan kekerasan.

Faktor sosial:

Kondisi sosial seperti pergaulan bebas, perjudian, atau kecanduan obat dapat memicu kekerasan dalam rumah tangga.



Faktor sejarah:

Sejarah kekerasan dalam rumah tangga dalam keluarga atau lingkungan sekitar dapat mempengaruhi terjadinya kekerasan dalam rumah tangga pada generasi berikutnya.

Banyak faktor ini bisa saling terkait dan meningkatkan risiko terjadinya KDRT. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang holistik dan multidisiplin untuk mencegah dan mengatasi kekerasan dalam rumah tangga.

kasus KDRT




Siapa yang Sering Melakukan KDRT?

Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dapat dilakukan oleh siapa saja, tidak terbatas pada jenis kelamin, usia, latar belakang sosial, agama, atau kebangsaan tertentu. Namun, dalam sebagian besar kasus, pelaku KDRT adalah pria terhadap pasangan perempuan, baik itu istri, tunangan, pacar, atau pasangan hidup lainnya.

Tidak hanya itu, anak-anak juga bisa menjadi korban KDRT oleh orang tua, anggota keluarga lainnya, atau pengasuh mereka. Selain itu, orang dewasa lainnya yang tinggal dalam rumah tangga juga dapat menjadi korban KDRT.



Penting untuk diingat bahwa KDRT tidak hanya melibatkan kekerasan fisik, tetapi juga bisa berupa kekerasan psikologis, ekonomi, dan seksual. Semua bentuk KDRT adalah tidak dapat diterima dan harus dihentikan.




 

Bagaimana Pandangan Islam terhadap KDRT?

Dalam pandangan agama Islam, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) merupakan perbuatan yang sangat dilarang dan dianggap sebagai pelanggaran serius terhadap hak asasi manusia dan kemanusiaan.

Pertama-tama, agama Islam menekankan pentingnya menjaga hubungan antara suami dan istri berdasarkan cinta, kasih sayang, dan saling menghormati. Surah Ar-Rum ayat 21 dalam Al-Qur’an menyatakan:

وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْٓا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةً

Artinya: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa ketenangan dan ketentraman hati, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih sayang dan belas kasihan.”

Dalam hadits Nabi Muhammad Saw juga disebutkan bahwa suami harus bersikap lembut terhadap istri, memuliakan dan memperhatikan kebutuhannya.



Kedua, agama Islam menegaskan bahwa setiap individu memiliki hak untuk hidup dalam keamanan dan bebas dari segala bentuk kekerasan dan penindasan. Surah Al-Hujurat ayat 12 dalam Al-Qur’an menyatakan:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱجْتَنِبُوا۟ كَثِيرًا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ ٱلظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا۟ وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, karena sebagian prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah menggunjing satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”

Oleh karena itu, kasus KDRT dalam rumah tangga dianggap sebagai pelanggaran terhadap hukum agama dan hak asasi manusia.

Menurut pandangan Islam, apabila seorang suami atau istri melakukan KDRT, maka tindakan tersebut harus segera dihentikan dan pelaku harus diminta bertanggung jawab atas perbuatannya.

Pada akhirnya, agama Islam mengajarkan bahwa keluarga adalah fondasi masyarakat yang kuat dan harmonis. Oleh karena itu, keluarga harus dijaga dengan penuh kasih sayang dan kebersamaan, bukan dengan kekerasan atau penindasan.




 

Cara Mengatasi Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT)

Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) merupakan suatu bentuk tindakan kekerasan yang terjadi di dalam lingkungan rumah tangga, dan bisa menimpa siapa saja, baik itu istri, suami, anak-anak, atau anggota keluarga lainnya. Berikut beberapa cara untuk mengatasi kekerasan dalam rumah tangga:

Segera hentikan tindakan kekerasan

Bila Anda menjadi korban kekerasan, segera hentikan tindakan tersebut dan mencari tempat yang aman.

Dapatkan bantuan dari pihak yang terlatih

Hubungi pusat bantuan bagi korban kekerasan atau institusi yang melayani masalah KDRT. Pihak tersebut biasanya memiliki petugas atau konselor yang terlatih dan berpengalaman dalam menangani kasus KDRT.

Melaporkan tindakan kekerasan ke pihak berwenang

Anda dapat melaporkan tindakan kekerasan yang Anda alami ke polisi atau ke pengadilan, tergantung pada tingkat kekerasannya. Ini akan membantu Anda mendapatkan perlindungan hukum dan mencegah tindakan kekerasan berulang.

Dapatkan dukungan dari keluarga atau teman terdekat

Keluarga dan teman dapat memberikan dukungan moral dan membantu Anda mengatasi kesulitan yang muncul sebagai akibat dari tindakan kekerasan yang Anda alami.

Pendidikan dan sosialisasi

Pendidikan dan sosialisasi di sekolah, tempat kerja, atau lingkungan sekitar dapat membantu meningkatkan kesadaran akan kasus KDRT dan cara mengatasinya.

Lakukan terapi psikologis atau konseling

Terapi psikologis atau konseling dapat membantu Anda memahami dan mengatasi trauma dan stres yang mungkin terjadi akibat tindakan kekerasan yang telah Anda alami.



Solusi Islam terhadap Kasus KDRT

Islam memandang kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) sebagai perilaku yang tidak sesuai dengan ajaran agama. Sebagai solusi terhadap KDRT, Islam menawarkan pendekatan yang holistik yang mencakup aspek sosial, psikologis, dan hukum.

Beberapa solusi Islam terhadap kasus KDRT antara lain:

  1. Mendidik dan mengingatkan suami agar bersikap lembut terhadap istri dan keluarganya. Islam mengajarkan bahwa suami adalah pemimpin dalam keluarga, namun tugas ini harus dilakukan dengan bijaksana, kelembutan, dan kasih sayang.
  2. Menekankan pentingnya komunikasi yang baik dalam rumah tangga. Dalam Islam, komunikasi yang baik antara suami istri adalah kunci untuk membangun kepercayaan dan kebahagiaan dalam rumah tangga. Sebaliknya, ketidakmampuan untuk berkomunikasi dengan baik seringkali menjadi pemicu konflik dan kasus KDRT.
  3. Memberikan perhatian dan kasih sayang terhadap istri dan anak-anak. Islam menekankan bahwa suami memiliki tanggung jawab untuk menyediakan kebutuhan fisik dan emosional bagi istri dan anak-anaknya. Perhatian dan kasih sayang ini dapat mengurangi ketegangan dan konflik di dalam rumah tangga.
  4. Memberikan pendidikan dan pelatihan kepada suami dan istri tentang hak-hak dan kewajiban dalam Islam. Dalam Islam, suami dan istri memiliki hak dan kewajiban yang sama di dalam rumah tangga. Melalui pendidikan dan pelatihan, suami dan istri dapat memahami hak-hak dan kewajiban mereka, sehingga dapat menjalankan perannya dengan benar.
  5. Menegakkan hukum yang berlaku untuk menghukum pelaku kasus KDRT. Islam melarang kekerasan dalam segala bentuknya, termasuk dalam rumah tangga. Jika seorang suami melakukan KDRT, maka harus dihukum sesuai dengan hukum yang berlaku dalam Islam.
  6. Menyediakan layanan dukungan psikologis dan sosial bagi korban kasus KDRT. Dalam Islam, memberikan bantuan kepada orang yang membutuhkan adalah sebuah amal yang mulia. Oleh karena itu, Islam mendorong umatnya untuk memberikan dukungan dan bantuan kepada korban KDRT, baik secara moral maupun material.

BACA JUGA: Betapa Cintanya Rasulullah Pada Siti Khadijah

Dalam kesimpulannya, solusi Islam terhadap kasus KDRT adalah dengan mengedukasi, memahami hak dan kewajiban suami istri, menegakkan hukum, memberikan perhatian dan kasih sayang, serta menyediakan layanan dukungan bagi korban. Hal-hal ini perlu dilakukan secara bersama-sama oleh masyarakat, keluarga, dan pemerintah untuk mengatasi masalah KDRT di dalam masyarakat.




Kreator/Editor : Dezete

Ilustrasi : Tempo.co & Kabar6.com

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top
Scroll to Top