childfree

Apakah Childfree Bertentangan dengan Ajaran Islam?



Nama selebgram Gita Savitri Devi jadi perbincangan belakangan ini dengan istilah childfree nya. Selebgram yang dikenal sebagai Gitasav itu menuai sorotan netizen usai menyebut tak punya anak (childfree) sebagai cara alami awet muda.

Perempuan asal Palembang ini mengatakan bahwa anak sejatinya adalah sebuah beban, bukan anugerah yang kerap digaung-gaungkan oleh publik selama ini. Ia lontarkan pada sesi live Instagram yang ia lakukan bersama suaminya, Paulus Andreas Partohap.

“Iya, buat gua (anak itu) beban. Buat lo, kan, bukan (tapi) anugerah. Buat gua beban makanya gua nggak mau (punya anak). And there’s nothing wrong with it (dan nggak ada yang salah dengan itu),” ujar Gita di sesi live Instagram tersebut, Rabu (8/2/2023) malam, seperti dikutip Detikcom.

Komentar itu menuai berbagai respons dari warganet. Ada yang langsung men-judge Gita sebagai pribadi yang sombong. Ada pula yang memahami keputusan Gita.




Definisi “Childfree”

Childfree adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan seseorang atau pasangan yang memilih untuk tidak memiliki anak secara sukarela. Orang-orang yang childfree memilih untuk tidak memiliki anak karena berbagai alasan, seperti ingin fokus pada karier, tidak tertarik dalam peran sebagai orang tua, tidak ingin mengambil tanggung jawab tersebut, atau karena pertimbangan lingkungan atau kesehatan.

Perlu diingat bahwa childfree berbeda dengan orang yang tidak memiliki anak karena alasan lain, seperti kesulitan untuk memiliki anak atau tidak bisa memiliki anak. Childfree adalah pilihan sukarela dan disengaja untuk tidak memiliki anak.




Meskipun demikian, keputusan untuk menjadi childfree tidak berbahaya bagi masa depan manusia secara umum. Selama populasi manusia masih mencukupi untuk mempertahankan keberlangsungan umat manusia, maka keputusan untuk menjadi childfree tidak akan berbahaya bagi masa depan manusia secara keseluruhan. Yang perlu diingat adalah bahwa setiap individu harus bertanggung jawab terhadap keputusan mereka sendiri dan mempertimbangkan konsekuensi dari keputusan tersebut.

 

Di Negara Mana Saja Gerakan Childfree Marak?

Gerakan childfree menjadi semakin populer di berbagai negara di seluruh dunia, terutama di negara-negara maju. Beberapa negara yang dikenal memiliki komunitas childfree yang aktif antara lain:

Amerika Serikat. Beberapa kota di AS, seperti San Francisco, New York, dan Seattle, dikenal memiliki komunitas childfree yang aktif.

Jepang. Gerakan childfree di Jepang semakin populer, di mana beberapa wanita memilih untuk tidak menikah dan memiliki anak karena fokus pada karier dan aspirasi pribadi.

Inggris. Beberapa kota di Inggris, seperti London, Manchester, dan Brighton, memiliki komunitas childfree yang besar dan aktif.




Kanada. Gerakan childfree semakin populer di Kanada, terutama di kota-kota besar seperti Toronto, Montreal, dan Vancouver.

Australia. Beberapa kota di Australia, seperti Melbourne, Sydney, dan Brisbane, dikenal memiliki komunitas childfree yang aktif.

Perlu diingat bahwa gerakan childfree bukan hanya terjadi di negara-negara tersebut. Karena keputusan untuk menjadi childfree adalah pilihan pribadi, maka ada kemungkinan terdapat komunitas childfree di banyak negara lain di seluruh dunia.

 

Apakah Childfree Bertentangan dengan Ajaran Islam?




Dalam Islam, memiliki anak dianjurkan dan dianggap sebagai salah satu tujuan hidup yang mulia. Namun, keputusan untuk memiliki anak atau tidak adalah keputusan pribadi yang harus diambil oleh setiap individu berdasarkan pertimbangan nilai-nilai, aspirasi, dan kondisi pribadi mereka.

Terdapat beberapa ayat dalam Alqur’an yang mengajak umat Muslim untuk beranak cucu dan menjaga kelangsungan keturunan, seperti dalam surah Az-Zumar ayat 6, yang berbunyi:

خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَٰحِدَةٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَأَنزَلَ لَكُم مِّنَ ٱلْأَنْعَٰمِ ثَمَٰنِيَةَ أَزْوَٰجٍ ۚ يَخْلُقُكُمْ فِى بُطُونِ أُمَّهَٰتِكُمْ خَلْقًا مِّنۢ بَعْدِ خَلْقٍ فِى ظُلُمَٰتٍ ثَلَٰثٍ ۚ ذَٰلِكُمُ ٱللَّهُ رَبُّكُمْ لَهُ ٱلْمُلْكُ ۖ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ فَأَنَّىٰ تُصْرَفُونَ

Artinya: “Dia menciptakan kamu dari seorang diri kemudian Dia jadikan daripadanya isterinya dan Dia menurunkan untuk kamu delapan ekor yang berpasangan dari binatang ternak. Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan. Yang (berbuat) demikian itu adalah Allah, Tuhan kamu, Tuhan Yang mempunyai kerajaan. Tidak ada Tuhan selain Dia; maka bagaimana kamu dapat dipalingkan?”




Namun, Islam juga menempatkan nilai-nilai seperti keselamatan dan kesehatan individu dan keluarga sebagai prioritas yang sangat penting. Jika memiliki anak dapat membahayakan keselamatan dan kesehatan individu atau keluarga, maka memilih untuk tidak memiliki anak dapat dianggap sebagai tindakan yang bijak dan bertanggung jawab.

Oleh karena itu, tidak dapat dikatakan bahwa keputusan untuk menjadi childfree bertentangan dengan ajaran Islam secara langsung. Namun, keputusan ini haruslah dipertimbangkan dengan matang dan harus diambil dengan mempertimbangkan nilai-nilai dan prinsip-prinsip Islam, serta kesejahteraan individu dan keluarga secara keseluruhan.




Keutamaan Memiliki Anak Menurut Islam

Dalam ajaran Islam, memiliki anak dan membentuk keluarga adalah hal yang dianjurkan dan termasuk bagian dari tujuan hidup manusia. Ada beberapa keutamaan yang terkait dengan memiliki anak dalam Islam, di antaranya:

  1. Menyebarkan agama Islam: Dalam ajaran Islam, memiliki anak yang sholeh dan berbakti kepada Tuhan serta menjalankan ajaran Islam dapat membantu menyebarkan ajaran Islam ke generasi selanjutnya.
  2. Menjaga keberlangsungan keturunan: Dalam Islam, menjaga kelangsungan keturunan sangat dianjurkan, karena kelangsungan hidup manusia dan terusnya generasi merupakan hal yang penting.
  3. Meningkatkan keberkahan dan pahala: Dalam ajaran Islam, memiliki anak yang sholeh dan taat dapat meningkatkan keberkahan dan pahala dari Tuhan.
  4. Menjaga keseimbangan dalam hidup: Keluarga dan anak-anak dapat membantu seseorang untuk menjaga keseimbangan dalam hidup, serta meningkatkan rasa cinta kasih dan kepedulian.




Dalil tentang Keutamaan Memiliki Anak

Dalam agama Islam, memiliki anak dianggap sebagai salah satu keutamaan karena anak-anak dianggap sebagai anugerah dan karunia dari Allah SWT. Beberapa dalil tentang keutamaan memiliki anak menurut Islam adalah sebagai berikut:

  1. Dalam Alqur’an surat Ar-Rum ayat 21, Allah SWT berfirman:

وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْٓا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةً ۗاِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ

Artinya: “Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung merasa tenteram kepadanya. Dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi kaum yang berpikir.”

  1. Dalam hadits riwayat Tirmidzi, Rasulullah Saw bersabda, “Nikahlah dengan wanita yang subur rahimnya, karena saya akan berbangga dengan jumlah umatku pada hari kiamat.” Dalam hadis lain, Rasulullah Saw bersabda, “Menikahlah, karena nikah itu akan menambah keutamaan dan kelapangan rezeki.”
  2. Dalam hadits riwayat Ibnu Majah, Rasulullah Saw bersabda, “Tiga perkara yang dilakukan oleh seseorang, maka pahalanya terus mengalir meskipun dia sudah meninggal dunia: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakan orangtuanya.”




Dari dalil-dalil tersebut, dapat disimpulkan bahwa memiliki anak dianggap sebagai suatu keutamaan dalam agama Islam karena anak-anak dianggap sebagai anugerah dari Allah SWT yang akan menjadi kelanjutan umat manusia. Selain itu, memiliki anak yang sholeh dan berbakti kepada orang tua juga akan memberikan manfaat dan pahala yang terus mengalir bahkan setelah seseorang meninggal dunia. Namun, sebagai orangtua, kita juga memiliki tanggung jawab besar dalam merawat dan mendidik anak-anak agar menjadi pribadi yang baik dan bermanfaat bagi masyarakat.

 BACA JUGA: Kisah Ruqayyah, Ummu Kultsum, Dan Fathimah




Pandangan Akademisi tentang Childfree

Menurut Prof Dr KH Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A.Ed, M.Phil, rektor Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor, gagasan childfree adalah hasil dari gerakan feminisme yang mendeklarasikan menikah tidak perlu mempunyai anak. Lantaran jika mempunyai anak maka sangat menyusahkan kaum hawa. Secara bahasanya, tugas wanita adalah hanya rumah, sumur, kasur dan dapur. Seakan-akan sebagaimana menurut gerakan feminisme adalah penghinaan terhadap perempuan. Padahal menurut filosofi Islam, pekerjaan seorang wanita khususnya tugas seorang istri seperti di dapur, memasak dan mencuci adalah ibadah karena pernikahan adalah alat atau kendaraan menuju syurga.

Di samping itu, jika membandingkannya dengan para ulama al-uzzab (yang memilih membujang atau tidak menikah) tentu jelas berbeda. Ulama terdahulu tidak menikah amal jariyahnya melahirkan sebuah ilmu berupa karya-karya buku. Selebihnya, memang dalam hukum fiqih memiliki keturunan tidaklah wajib atau tidak dianjurkan. Akan tetapi membatasi untuk mempunyai keturunan (tahdid an-nasl), dalam kajian fiqih tentunya lebih dekat kepada dimensi rukhshah (ada keringanannya). Artinya, childfree bukanlah suatu gaya hidup yang boleh sengaja dipilih. Namun, harus ada kaitannya dengan suatu kondisi yang dhorurah (keadaan darurat).




Dengan demikian, sebagaimana dalam hadits Nabi menegaskan Dari Abu Hurairah r.a berkata: “Apabila Manusia itu meninggal dunia, maka terputuslah segala amalnya kecuali tiga perkara, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang sholeh mendoakan kepadanya.” (HR. Muslim)

Mengikuti para ulama terdahulu, kata Hamid Fahmy Zarkasyi, jangan diikuti tidak menikahnya, melainkan yang diikuti adalah ilmunya. Sebab, kalau perempuan muslimah tidak menginginkan menikah dan tidak mempunyai anak tidaklah mengapa, tetapi dia harus religius dan sholehah. Dan jika seorang istri tentunya harus taat kepada suami. Pilihlah alternatif amal jariyah lain tanpa menyalahkan bahkan menentang orang yang menikah dan mempunyai keturunan (anak).

 

Pandangan Pemikir NU tentang Childfree




Sementara itu, Shofiyatul Ummah, pengajar di PP Nurud-Dhalam Sumenep Madura dan merupakan pemikir muda NU, menulis di portal Nu.or.id bahwa ajaran agama Islam menganjurkan penganutnya untuk melangsungkan pernikahan, dimana tujuan pernikahan tersebut tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan biologis manusia, namun juga karena beberapa hikmah lainnya. Mengutip pandangan Imam as-Sarkhasi (wafat 483 H) dalam kitabnya al-Mabsûth:

ثم يتعلق بهذا العقد أنواع من المصالح الدينية والدنيوية. من ذلك حفظ النساء و القيام عليهن. ومن ذلك صيانة النفس من الزنا. ومن ذلك تكثير عباد الله تعالى وأمة رسول الله صلى الله عليه وسلم وتحقيق مباهات الرسول صلى الله عليه وسلم بهم

Artinya “Akad nikah ini berkaitan dengan berbagai kemaslahatan, baik kemaslahatan agama atau kemaslahatan dunia. Di antaranya melindungi dan mengurusi para wanita, menjaga diri dari zina, di antaranya pula memperbanyak populasi hamba Allah dan umat Nabi Muhammad Saw, serta memastikan kebanggaan Rasul atas umatnya.” (Muhammad bin Ahmad bin Abi Sahl as-Sarakhsi, al-Masbshût, [Beirut, Dârul Fikr, 1421 H/2000 M], juz IV, hlm 349-350).

Selain itu Hasan Sayyid Hamid Khitab dalam kitabnya Maqâsidun Nikâh yang mengutip pendapat Ibnul Qayyim al-Jauziyyah dalam kitabnya I’lâmul Muwaqqi’in menjelaskan tujuan pernikahan:

وكذلك فى النكاح مقصوده حفظ نوع البشري و انجاب الولد الصالح. وهي أيضا علة حقيقة لشريعته. فلا يمكن تصور ولد الصالح بدون النكاح. فالنكاح سبب يتوصل اليه، والولد الصالح مقصود للشرع وللمكلف وإذا لم يوجد الزواج لم يوجد الولد الصالح

Artinya “Begitu pula dalam pernikahan, tujuannya adalah menjaga keberlangsungan jenis manusia, dan melahirkan keturunan yang sholeh. Alasan ini secara hakikat juga menjadi alasan disyariatkannya pernikahan. Karenanya tidak mungkin terbayang adanya anak sholeh tanpa pernikahan, sehingga menikah adalah sebab yang menjadi perantaranya. Anak sholeh merupakan maksud syariat dan orang berakal. Jika tidak ada pernikahan, maka tidak akan ada anak sholeh.” (Hasan Sayyid Hamid Khitab, Maqâsidun Nikâh wa Atsarihâ Dirâsatan Fiqhiyyatan Muqâranatan, (Madinah: 2009) hlm 9).




Pentingnya memiliki keturunan dalam pernikahan pun telah tergambar dari sabda Nabi Saw tentang anjuran menikah dengan wanita yang subur dan sabda Nabi Saw tentang anak sholeh adalah investasi yang tidak terputus meski orang tuanya meninggal. Imam al-Ghazali memaparkan:

وفى التواصل الى الولد قربة من اربعة وجوه هي الاصل فى الترغيب فيه عند امن من غوائل الشهوة حتى لم يحب احد ان يلقي الله عزبا الاول موافقة الله بالسعي فى تحصيل الولد الثانى طلب محبة الرسول صلى الله عليه وسلم في تكثير من به مباهته الثالث طلب التبرك بدعاء ولد الصالح بعده الرابع طلب الشفاعة بموت الولد الصغير اذا مات قبله

“Upaya untuk memiliki keturunan (menikah) menjadi sebuah ibadah dari empat sisi. Keempat sisi tersebut menjadi alasan pokok dianjurkannya menikah ketika seseorang aman dari gangguan syahwat sehingga tida ada seseorang yang senang bertemu dengan Allah dalam keadaan jomblo atau tidak menikah. Pertama, mencari ridha Allah dengan menghasilkan keturunan. Kedua, mencari cinta Nabi Saw dengan memperbanyak populasi manusia yang dibanggakan. Ketiga, berharap berkah dari doa anak sholeh setelah dirinya meninggal. Keempat, mengharap syafaat sebab meninggalnya anak kecil yang mendahuluinya.” (Al-Ghazali, Ihyâ’ ‘Ulûmiddin, (Jeddah, al-Haramain:), juz II, hlm 25).




Adapun menikah tanpa ingin memiliki keturunan atau childfree dengan alasan kekhawatiran dalam kemampuan finansial, alasan ini tidak cukup kuat untuk menjadi alasan enggan memiliki keturunan. Bahkan alasan tersebut jika dicermati menggambarkan ketidakyakinan seseorang terhadap kebaikan Tuhannya. Syekh Uwais Wafa bin Muhammad Al-Arzanjani menyebutkan dalam ilustrasinya tentang hubungan manusia dengan pekerjaan:

ومنها، أي من تلك الوجوه، سوء ظنه بخالقه أنه لا يرزقهم الا من جهته

Artinya “Di antara (penyebab kurangnya harta) adalah adanya prasangka buruk makhluk terhadap Tuhannya, bahwa Tuhan tidak akan memberi mereka rezeki kecuali dari makhluk.” (Uwais Wafa Muhammad bin Ahmad bin Khalil bin Dawud al-Arzanjani, Minhâjul Yaqîn ‘alâ Syarhi Adâbid Dunyâ wad Dîn, [Jeddah, al-Haramain: 1910], hlm 382).

Walhasil, menurut Shofiyatul Ummah, dilihat dari kuatnya anjuran, keutamaan, serta urgensitas keberadaan anak sholeh dari suatu pernikahan, serta pertimbangan yang tidak prinsipil untuk tidak memiliki keturunan, maka alasan memilih nikah tanpa memiliki keturunan atau childfree hendaknya tidak dilakukan. Sebab hal tersebut tidak sesuai dengan anjuran agama, serta menyalahi makna filosofis dari pernikahan.




Pandangan Muhammadiyah tentang Childfree

Terkait gaya hidup tanpa anak alias childfree, Ketum PP Muhammadiyah Haedar Nashir pun turut bersuara. Menurutnya, manusia punya sunnatullah untuk berpasangan dan memiliki keturunan. Apalagi Indonesia pada dasarnya negara yang beragama serta memiliki nilai budaya luhur terkait keluarga.

Haedar menilai gaya hidup childfree merupakan pilihan individu. Namun, kata dia, dalam konteks yang lebih luas dia berpesan agar membangun tatanan kehidupan yang normal. “Itu hanya pilihan individu yang sangat subjektif. Maka dalam konteks yang lebih luas kita tetap perlu membangun tatanan normal bahwa kehidupan menikah dan melanjutkan keturunan adalah sunnatullah, itu aja pesan saya,” pungkasnya, seperti dikutip Detikcom.




Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Abdul Mu’ti pun ikut menambahi. Dalam pandangannya, gagasan childfree muncul akibat berubahnya filosofi perkawinan. Jika relasi perkawinan pada awalnya ditujukan untuk regenerasi, maka childfree memandang perkawinan hanya sebagai rekreasi.

“Untuk senang-senang saja. Oleh karena itu terhadap kecenderungan ini, selain tadi ada orang berkeluarga yang tidak mau berketurunan. Ada juga orang mau punya anak tapi gak mau hamil.  Alasannya, takut gak cantik lagi dan gak menarik lagi,” jelasnya seperti dilansir dari situs Muhammadiyah.or.id.

Mu’ti pun menegaskan bahwa gagasan childfree seperti ini pada akhirnya dapat mengakibatkan degenerasi atau keterputusan generasi. Selain itu, hal ini tidak sesuai dengan ajaran Islam sebagaimana hadits shahih Nabi Muhammad Saw riwayat Abu Daud, an-Nasa`i dan Ahmad yang artinya: “Nikahilah wanita yang penyayang lagi memiliki banyak keturunan. Maka sesungguhnya aku akan berbangga-bangga dengan banyaknya kalian di depan umat lainnya pada hari Kiamat.”

“Atas dasar hadits ini, di antara tujuan pernikahan adalah reproduksi dan regenerasi,” ujar Guru Besar Pendidikan Agama Islam UIN Syarif Hidayatullah ini.




Pandangan Psikolog tentang Childfree

Menurut Dr. Tri Rejeki Andayani, S.Psi., M.Si., dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, orang-orang yang memutuskan hidup lajang atau childfree biasanya akan mengekspresikan generativitasnya melalui berbagai bidang kehidupan. “Seperti menjadi relawan, aktivitis lingkungan hidup, bekerja secara profesional, atau terlibat dalam kegiatan agama, sosial, maupun politik,” ungkap dosen Psikologi FK UNS ini.

Di sisi lain, ketidakyakinan akan kemampuan dalam merawat dan mengasuh anak juga menjadi salah satu kekhawatiran yang sering kali dialami. Oleh karenanya, salah satu pembekalan yang penting diberikan di masa persiapan nikah adalah membangun parenting self-efficasy pada keduanya.




“Sehingga calon ayah atau ibu memiliki keyakinan diri terhadap kompetensinya dalam merawat dan memberikan pengasuhan pada anak yang secara positif. Hal ini akan berpengaruh pada perilaku pengasuhannya dan menunjang tumbuh kembang anak secara optimal,” katanya.

Dr. Tri Rejeki Andayani menuturkan bahwa salah satu pihak yang perlu dilibatkan dalam pengambilan keputusan childfree ialah keluarga besar. Sebab pernikahan pada prinsipnya tidak hanya melibatkan dua individu saja, tetapi juga dua keluarga besar. Alhasil, keputusan untuk tidak memiliki anak sebaiknya disampaikan ke orang tua masing-masing.

“Sebab, orang tua dari pasangan suami istri itu tentu memiliki harapan pada pernikahan anak-anaknya. Salah satunya harapan untuk memiliki cucu yang meneruskan keturunannya,” jelasnya, seperti dikutip dari website UNS.

Apabila keputusan tersebut tidak dapat diterima, tentu dapat menjadi tekanan sosial bagi pasangan. Namun, jika dapat diterima, maka pasangan akan lebih mudah menghadapi tekanan sosial dari masyarakat di luar keluarga.




Demikian sekilas uraian tentang Childfree dari berbagai sudut pandang. Intinya, tidak ada larangan dalam Islam untuk memilih childfree karena faktor kesehatan dan biologis, dan bukan karena kekhawatiran ketiadaan rezeki dan faktor gaya hidup (takut hilang kecantikan dan terlihat tua). Namun, memiliki anak dan menjaga kelangsungan keturunan sangat dianjurkan dalam ajaran Islam. Oleh karena itu, keputusan untuk memilih childfree haruslah dipertimbangkan dengan matang, berdasarkan nilai-nilai dan prinsip-prinsip Islam, serta kesejahteraan individu dan keluarga secara keseluruhan. (*)

 BACA JUGA: Kisah Zaenab Putri Tertua Rasulullah Saw




Kreator/Editor : Dezete

Image : Detikcom

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top
Scroll to Top