Hindari Dendam,Dengki,Ghibah dan Riya'

Menghindari Dendam, Dengki, Ghibah, dan Riya’

Melanjutkan artikel sebelumnya, Tips Mengatasi Penyakit Hati, berikut kelanjutan tulisannya, mengenai Menghindari Dendam Dengki Ghibah dan Riya.





 

BACA JUGA: Tips Mengatasi Penyakit Hati

Dendam

Dendam, Dengki, Ghibah, dan Riya. Menurut Aa  Gym, dendam itu buah dari hati yang merasa terluka, merasa teraniaya, merasa haknya terambil. Makin kuat rasa dendam seseorang, maka akan semakin besar kemungkinaan seseorang untuk marah, dengki, dan tidak suka melihat orang lain mendapat nikmat dan suka melihat orang lain sengsara.

Makin membara dendam, maka dia akan mencari segala daya dan upaya untuk mencemarkan, mencoreng, bahkan kalau bisa mencelakakan dan bisa jadi memilih membayar orang lain untuk membunuh. Naudzubillah!




Nabi Muhammad Saw tidak mengenal rasa dendam

Nabi Muhammad Saw tidak mengenal rasa dendam itu. Betapapun beliau dihina, dicaci dan dimaki, dengan perbuatan yang betul-betul rendah. Tapi apa yang beliau lakukan bukanlah mendendamnya melainkan memaafkannya.

Rasa maafnya begitu tinggi. Tidak sedikit orang yang menyakiti beliau dan beliau sikapi dengan kesempurnaan akhlak dan akhirnya dia (orang tersebut) menemukan hidayah.

Dendam menghancurkan kebahagiaan kita

Oleh karena itu, barangsiapa di antara kita yang dibelit rasa dendam, selain akan menghancurkan kebahagiaan kita, juga bisa menghancurkan pikiran kita dan akhlak kita. Dendam juga bisa menghancurkan dunia dan akhirat kita. Maka, balaslah keburukan orang lain itu dengan kebaikan.



Kita tida bisa memaksa orang lain untuk bersikap baik kepada kita. Tapi, kita bisa memaksa diri kita untuk menyikapi sikap orang dengan cara terbaik. Bagaimana tekniknya?

Ada satu kunci yang bersumber dari Al-Qur’an surah Al-Hujurat ayat 10-12:

Surat al-Hujurat Ayat 10

إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Artinya: “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.




Surat Al-Hujurat Ayat 11-12

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُونُوا۟ خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَآءٌ مِّن نِّسَآءٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا۟ بِٱلْأَلْقَٰبِ ۖ بِئْسَ ٱلِٱسْمُ ٱلْفُسُوقُ بَعْدَ ٱلْإِيمَٰنِ ۚ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum (lelaki) menghina/merendahkan kaum (lelaki) yang lain, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula kaum (perempuan) merendahkan kaum (perempuan) yang lain, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.

Sesungguhnya orang yang beriman itu bersaudara

Sesungguhnya orang yang beriman itu bersaudara. Kunci pertama adalah latihan. Tetangga adalah saudara seiman. Keponakan adalah saudara seiman. Makin tebal rasa persaudaraan kita, akan semakin ringan hidup ini.



Kunci kedua, jangan sampai pikiran kita disibukkan untuk mempermasalahkan masalah. Tapi pikiran kita itu digunakan untuk menyelesaikan masalah. Kunci ketiga, adanya semangat demi kemaslahatan bersama. Jangan sampai kita mendapat kemenangan sendiri sedangkan orang lain kalah.

Belajar untuk menghilangkan dendam

Bila kita pernah tersakiti, kemungkinan besar kita akan memendam rasa dendam walau itu baru sampai dalam pikiran kita. Tapi kita bisa belajar untuk menghilangkannya. Seperti halnya seorang karateka yang belajar menghancurkan bata yang keras. Pertama kali memukulnya, bata tersebut tidak langsung hancur. Tapi dia tidak patah semangat, diulangi lagi usaha terus-menerus. Akhirnya pada pukulan kesekian kali batu itu berhasil dihancurkan.

Begitu pula hati kita, kalau hati dibiarkan sensitif, maka hati ini akan mudah terluka. Tapi, kalau hati ini terus dilatih, maka hati kita akan makin siap menghadapi segala pukulan dari berbagai arah. Kalau kita disakiti seseorang, jangan lihat seseorang itu sebagai orang yang telah menyakiti kita. Tapi lihatlah dia sebagai sarana ujian dan ladang amal dari Allah.




Dengki

Orang yang berpenyakit dengki itu mempunyai ciri khusus. Satu ciri sederhana adalah “Dia senang melihat orang lain susah dan susah melihat orang lain senang.”

Cara mendeteksi penyakit dengki

Jadi sangat mudah jika kita ingin mendeteksi apakah penyakit dengki ada pada diri kita. Apakah kita merasa senang melihat orang lain susah dan susah melihat orang lain senang? Berapa besar kebahagiaan kita ketika melihat orang lain susah dan berapa besar  tingkat penderitaan kita ketika melihat orang lain senang?



Rasa dengki yang sifatnya hanya berupa lintasan hati saja itu adalah sesuatu yang normal, karena kita sebagai manusia yang memiliki hawa nafsu. Tapi jika kedengkian itu diperturutkan, maka akan menimbulkan masalah baru yang akan menyusahkan diri kita sendiri.

Ciri lain adanya keengganan untuk bertemu

Ciri lainnya adalah adanya keengganan dari seorang pendengki  untuk melihat atau bertemu dengan orang yang didengkinya. Seorang pendengki tidak akan mau mendengar suaranya. Kalau kita merasa dengki terhadap sesorang, maka kita tidak akan ingin berdekatan dengannya.




Melakukan upaya gigih agar orang jelek di mata banyak orang

Raut muka pendengki lebih banyak masamnya daripada manisnya. Tutur kata pendengki lebih banyak menghina, mencela, dan menjatuhkan. Kalau dia mendengar seseorang mendapat pujian dari orang lain, maka dia akan menimpati bahwa apa yang dipujikan padanya belumlah seberapa. Dia akan berusaha menutup-nutupi kebaikan orang yang didengkinya di hadapan semua orang, karena dia tidak tahan mendengar orang lain mendapat pujian sedangkan dia sendiri tidak. Dia selalu melakukan upaya-upaya gigih agar orang lain nampak jelek di mata banyak orang.



Otak orang  pendengki itu terus berputar memikirkan kejelekan orang yang didengkinya dan memikirkan berbagai cara untuk menjegalnya agar tidak mendapat kesuksesan, karena dia merasa bahwa orang lain itu tidak layak sukses kecuali dirinya sendiri.

Pendengki merasa sengsara melihat orang lain sukses

Pendengki itu merasa sengsara melihat orang lain sukses. Dan orang yang berpenyakit dnegki kronis akan terus berupaya mencelakakan orang yang didengkinya. Dia berharap benar bahwa kehidupan, karir, dan kondisi keluarga orang yang didengkinya itu hancur dan sengsara.




Cara Mengatasi Penyakit Dengki

Obat penyakit dengki , menurut Aa Gym, tidaklah cukup dengan kapsul atau pil, tapi membutuhkan suplemen tambahan. Dia membutuhkan vitamin yang mujarab yang dapat mengatasi penyakit hatinya. Vitamin tersebut bisa didapat dengan ilmu.

Latihan meyakini bahwa rezeki itu dari Allah

Ilmu pertama adalah latihan. Latihan yang harus dilakukan oleh seorang pendengki adalah latihan untuk mulai meyakini bahwa yang membagikan rezeki itu hanyalah Allah SWT. Allah membagikan apapun sesuka Dia, karena Dia-lah yang menciptakan dan mengurus, mengapa kita harus ikut campur dan merasa dengki?

Kedengkian kita kepada seseorang tidak akan mengubah ketentuan Allah kepada orang itu. Kita dongkol kepada dia karena usahanya lebih lancar daripada usaha kita, itu semua percuma saja. Kondisi dia tidak akan berubah jika Allah tidak menginginkannya. Maka usaha kita untuk menjatuhkan dia akan sia-sia belaka.



Hanya Allah yang menentukan dan mendapat mengangkat atau menurunkan derajat seseorang. Allah yang memuliakan dan Allah pula yang menghinakan. Jadi, kedengkian kita kepada orang lain itu tidak akan mampu mengubah ketentuan Allah.

Naiknya kedudukan tidak berarti naiknya kemuliaan di hadapan Allah

Satu hal yang harus kita yakini, bahwa kita hanyalah manusia yang mampir di dunia ini atas kehendak Allah. Naiknya kedudukan tidak berarti naiknya kemuliaan kita di hadapan Allah. Ditambahnya harta belum tentu berarti diangkatnya derajat kita. Tidak jarang Allah menghinakan seseorang justru dengan meningkatkan kedudukannya. Tidak jarang orang yang akhirnya jatuh, hanya karena kedudukan yang ditingkatkan.




Belajar mengakui bahwa orang lain lebih baik dari kita

Hal terpenting untuk mengatasi kedengkian adalah belajar untuk mengakui bahwa orang lain yang lebih baik daripada kita. Memang dia lebih cerdas, lebih muda, lebih brilian, dan idenya lebih cemerlang daripada kita.

Oleh karena itu belajarlah agar hati kita mengakuinya. Sikap itu akan meringankan kedengkian. Kalau sudah mengakuinya, belajarlah untuk memuji. Jangan pernah kita untuk tidak memberi pujian pada orang lain jika memang dia berhak mendapatkannya.

Menempatkan diri untuk menjadi bagian kesuksesan orang lain

Cara lainnya adalah menempatkannya diri kita untuk menjadi bagian kesuksesan orang lain dan senantiasa mengiringinya dengan doa. Tidak akan pernah rugi jika kita mendoakan kesuksesan bagi orang lain.



Makin banyak kita berbuat kebaikan bagi orang lain, maka akan semakin bebas hati ini dari kedengkian. Kalaupun orang lain berbuat buruk terhadap kita, maka sebaiknya kita membalasnya dengan kebaikan. Bila hati kita sudah terbebas dari kedengkian. Insya Allah, sekecil apapun amal kita, maka amal itu akan utuh dan akan menjadi bekal kita untuk pulang ke negeri akhirat nanti.

Ghibah

Pengertian Ghibah secara sederhana adalah menggunjing, yaitu membicarakan seseorang tentang hal yang tidak disukainya. Ada sebuah hadits yang menjelaskan definisi ghibah:

Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah Saw bersabda:

أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ قِيلَ أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا أَقُولُ قَالَ إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدْ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ

Artinya: “Tahukah kalian apa itu ghibah?”, Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Beliau bersabda, “Yaitu engkau menceritakan tentang saudaramu yang membuatnya tidak suka.” Lalu ditanyakan kepada beliau, “Lalu bagaimana apabila pada diri saudara saya itu kenyataannya sebagaimana yang saya ungkapkan?” Maka beliau bersabda, “Apabila cerita yang engkau katakan itu sesuai dengan kenyataan maka engkau telah meng-ghibahinya. Dan apabila ternyata tidak sesuai dengan kenyataan dirinya maka engkau telah berdusta atas namanya (berbuat buhtan).” (HR. Muslim).




Siapapun bisa melakukan ghibah

Tukang menggunjing seringkali dilekatkan pada ibu-ibu karena kesempatan mereka untuk berkumpul dengan rekan-rekannya relatif sering. Padahal siapapun orangnya bisa melakukan hal yang sama jika tidak mampu menjaga lisan/lidahnya. Memang lidah itu tidak bertulang, tapi saat-saat tertentu lidah itu bisa menjadi lebih tajam daripada sebilah pedang yang selalu diasah setiap hari.

Membicarakan kejelekan atau aib orang lain termasuk menggunjing, walaupun pada kenyataannya aib itu memang benar-benar ada pada dirinya. Saat seseorang mengatakan bahwa “si fulan begini, si fulan begitu”,  kemudian dia diingatkan saudaranya  untuk menghentikan gunjingannya, dengan santainya dia menjawab bahwa tujuan dia menggunjing adalah untuk kebaikan si fulan atau untuk mengubahnya agar menyadari kesalahan yang telah dilakukannya. Apakah boleh kita menggunjing seseorang dengan tujuan demikian?

Mengubah seseorang menjadi lebih baik tidak perlu dengan ghibah

Mengubah seseorang agar menjadi lebih baik tidak perlu dilakukan dengan cara menggembar-gemborkan aibnya pada orang lain, sehingga yang tahu tentang aib itu bukan hanya satu orang atau dua orang, tapi banyak orang akan mengetahuinya. Orang yang digunjingkan pasti tidak akan menerima jika dia tahu bahwa dia menjadi obyek gunjingan seseorang.




Persaudaraan bisa berubah menjadi permusuhan gara-gara ghibah

Dia akan merasa sakit hati walau sebetulnya apa yang dibicarakan itu adalah benar. Dan bisa saja dia akan marah besar saat tahu seseorang menggunjingnya tentang sesuatu yang tidak benar. Akhirnya terjadilah permusuhan yang sangat fatal yang menyebabkan sebuah persahabatan yang selama ini telah dijalin dengan baik hancur begitu saja karena gunjingan tersebut. Persaudaraan pun bisa berubah menjadi permusuhan gara-gara menggunjing. Hubungan apapun bisa hancur jika orang-orang yang terlibat di dalamnya saling menggunjing.

Orang yang suka mengghibah seperti memakan daging saudaranya

Allah memberikan permisalan orang-orang yang suka menggunjing sebagai orang yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati. Atau dengan kata lain adalah memakan bangkai saudaranya. Jangan bangkai, daging mentah saja jika dimakan tidak akan enak rasanya. Biasanya, onggokan bangkai akan sangat diminati oleh belatung-belatung yang berusaha memakannya. Apakah mau jika kita ditawari seonggok bangkai? Sudah pasti kita menolaknya walaupun bangkai itu disimpan di atas sebuah piring mewah yang lengkap dengan hiasannya.




Memilih lingkungan pergaulan yang dapat tingkatkan kualitas keilmuan dan keimanan

Sebetulnya, siapapun berpotensi untuk melakukan ghibah. Yang bisa kita lakukan adalah memilih lingkungan pergaulan yang dapat meningkatkan kualitas keilmuan dan ibadah kita menjadi semakin baik lagi. Jangan sampai kita terlena dengan obrolan-obrolan yang pada akhirnya menzalimi orang lain. Segeralah meninggakan majelis pertemuan jika memang sudah mengarah pada hal-hal yang menjerumuskan kita pada kotornya hati.



Berbagai upaya dapat kita lakukan agar terbebas dari kebiasaan menggunjing. Seseorang jika memiliki kemauan yang kuat untuk memperbaiki dirinya, maka akan terbentang jalan dan cara untukmencapai tujuan tersebut. Wallahua’lam!!




Riya’

Alangkah beruntungnya orang-orang yang tidak disiksa oleh kerinduan untuk dipuji dan dihormati oleh orang lain. Karena ternyata kalau kita mau jujur, kita akan sengsara karena terlalu banyak memikirkan penilaian orang lain kepada kita. Jika perkara duniawi dan ukhrawi dilakukan hanya untuk mendapatkan pujian, penghormatan, dan penilaian manusia, maka sesungguhnya kita telah diserang penyakit Riya’.

Apapun amal harus didasari dengan keikhlasan

Berbahagialah bagi orang-orang yang merindukan kemuliaan dan kebaikan. Jika kita ikhlas dan terbebas dari penyakit hati, maka Aa Gym, kita tidak perlu khawatir terhadap apapun yang akan menimpa kita. Karena Allah akan tetap memberikan kemuliaan kepada kita jika kita mampu memeliharanya. Intinya, apapun yang akan kita lakukan harus didasari dengan keikhlasan.



Kalau kita memamerkan amal (amal kebaikan) atau memamerkan sesuatu. Misalkan kita memamerkan pengalaman kita keluar negeri dengan menceritakan dan memperlihatkan barang bawaan kita pada orang banyak dengan tujuan ingin mendapat pujian dan orang lain menjadi bangga terhadap dirinya, maka dia telah melakukan amal yang sia-sia. Allah tidak akan memberinya pahala karena segala apa yang diusahakannya tidak lagi bernilai ikhlas.

Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 264:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُبْطِلُوْا صَدَقٰتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْاَذٰىۙ كَالَّذِيْ يُنْفِقُ مَالَهٗ رِئَاۤءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ فَمَثَلُهٗ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَاَصَابَهٗ وَابِلٌ فَتَرَكَهٗ صَلْدًا ۗ لَا يَقْدِرُوْنَ عَلٰى شَيْءٍ مِّمَّا كَسَبُوْا ۗ وَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْكٰفِرِيْنَ



Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu merusak sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfakkan hartanya karena riya’ (pamer) kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari akhir. Perumpamaannya (orang itu) seperti batu yang licin yang di atasnya ada debu, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, maka tinggallah batu itu licin lagi. Mereka tidak memperoleh sesuatu apapun dari apa yang mereka kerjakan. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir.”

BACA JUGA: Tujuh Golongan Dalam Naungan Allah

Hadits-hadits tentang Riya’

Ada beberapa hadits Rasulullah yang menerangkan tentang segala sesuatu yang ada kaitannya dengan riya’ : “Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk badan dan rupamu, tetapi Allah melihat niat dan keikhlasan dalam hatimu.” (HR. Muslim)

Hadits lainnya: “Sesungguhnya yang paling aku takuti atas kamu sekalian adalah syirik kecil.” Sahabat bertanya, “Apakah syirik kecil itu ya Rasulullah?” Rasulullah bersabda, “Syirik yang paling kecil itu adalah riya’.”




Riya’ menghanguskan pahala amal yang telah diperbuat

Betapa orang yang riya’ itu sangat merugi. Selain dianggap sudah menyekutukan Allah, dia pun tidak akan mendapat pahala atas apa yang telah dia lakukan, karena riya’ telah menghanguskan pahala amal yang telah diperbuat. Beralihnya tujuan kita dalam beramal dari tujuan kita untuk mendapat keridhaan Allah menjadi tujuan busuk yaitu untuk mendapat pujian manusia. Itulah yang menghanguskan pahala amal-amal yang telah kita kerjakan.

Kita harus mati-matian menjaga niat

Jadi,menurut Aa Gum,  selain kita beramal, kita juga harus mati-matian menjaga niat. Bagaimana cirinya orang yang tidak ikhlas atau riya’? Ada orang ataupun tidak ada, maka tidak akan mempengaruhi orang yang ikhlah karena Allah untuk berbuat atau mengerjakan sesuau. Sebaliknya, orang tidak ikhlas, maka dia akan memungut sampah yang ada di hadapannya jika ada orang lain yang melihatnya dan berharap dia mendapat pujian yang baik dari mereka. Jika tidak ada orang di sekelilingnya, maka berapa banyak sampah yang ada di hadapannya tidak akan mempengaruhi dan menggugah hatinya untuk membuang sampah tersebut di tempatnya.

Tidak perlu pusing memikirkan penilaian makhluk Allah

Untuk apa kita cari muka pada orang lain? Nikmatnya beramal terletak pada keikhlasan kita untuk melakukannya. Kita tidak akan pernah letih untuk baramal jika niat kita ikhlas. Itulah yang selalu dilakukan Rasulullah Saw. Kita tidak perlu pusing memikirkan dan berharap penilaian baik dari makhluk Allah. Rasulullah Saw selalu menjaga niatnya, tampak ataupun tidak, semua amal yang dilakukannya semata karena Allah SWT.




Tidak semua amal itu harus disembunyikan

Memang kita tidak boleh melakukan riya’, tapi bukan berarti semua amal yang kita lakukan harus bersifat tersembunyi dari pandangan manusia. Jika begitu, maka akan menyusahkan diri kita sendiri. Kita jadi tidak akan melakukan apa-apa jika orang lain ada di sekitar kita sebagai usaha untuk menghindarkan diri dari penyakit riya’. Pengertiannya tidaklah demikian. Karena kalau kita lihat perilaku Rasulullah Saw, tidak semua amalnya itu tersembunyi, bahkan sebagian amalnya diperlihatkan. Kalau tidak demikian, bagaimana kita bisa meniru beliau? Jadi sebetulnya bukan masalah tampak ataupun tidak tampak, tapi masalah apa yang menjadi niat di hatinya.

Riya’ itu berkaitan langsung dengan niat

Riya’ itu ada kaitannya langsung dengan masalah niat, sedangkan niat adalah urusan hati. Kemudian dari niat itu akan terwujud sebuah amal perbuatan. Oleh karena itu, riya’ atau tidaknya seseorang hanya bisa kita ketahui sebatas perilaku yang terlihat saja, sedangkan masaah hati, siapa yang tahu? Hanya Allah lah yang berhak menghakimi seseorang bahwa di dalam hatinya telah bercokol niat yang tidak ikhlas.



Sebetulnya walaupun kita telah menyembunyikan amal agar tidak terlihat orang lain, hal itu juga belum berarti kita telah ikhlas. Hati-hatilah, siapa tahu suatu saat hal itu menimpa kita sehingga kita termasuk orang yang ‘ujub, yaitu orang yang merasa kagum terhadap dirinya sendiri walaupun sebenarnya orang lain tidak tahu.



Tanamkan dalam diri “Cukuplah hanya Allah bagi kita”

Seperti itulah jika amalan kita tidak didasari oleh niat ikhlas karena Allah. Diam dalam kesendirian dalam beramal belum tentu menjadikan kita selamat kalau kita tidak pandai mengelola hati. Mulailah dari sekarang untuk memuaskan diri kita dengan menanamkan dalam diri “cukuplah hanya Allah bagi kita”. Allah melihat segala amal kita, maka itu cukuplah buat kita. Tidak dilihat siapapun tidak menjadi masalah, yang penting adalah Allah ridha, cukup!




Inilah beberapa tips atau kiat-kiat untuk mengatasi/membersihkan aneka penyakit hati (Dendam, Dengki, Ghibah, dan Riya) yang kerapkali menghinggapi diri kita, sadar atau tidak sadar. Dengan azam yang kuat agar kita menjadi pribadi yang lebih baik, disertai dengan keikhlasan yang maksimal dalam melakukan berbagai amal shaleh dan semata mengharap ridha Allah, maka insyaAllah kita akan terbebas dari penyakit hati. Semoga !!

 

Referensi :

  • Abdullah Gymnastiar, Mengatasi Penyakit Hati, penerbit Republika, Cetakan Keempat, Agustus 2003.

Editor : Dezete




 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top
Scroll to Top