Priyayi, Santri, dan Abangan

Kategorisasi Priyayi, Santri, Abangan, Masihkah Relevan?



Clifford Geertz adalah seorang antropolog Amerika yang melakukan penelitian tentang masyarakat Jawa pada tahun 1950-an. Penelitiannya tersebut tergabung dalam sebuah proyek penelitian yang didanai oleh Universitas Harvard yang berlangsung selama beberapa tahun di Jawa Tengah, Indonesia.

Geertz membagi masyarakat Jawa menjadi tiga kelompok, yaitu Priyayi, Santri, dan Abangan. Hasil penelitiannya itu dirangkum dan dipublikasikan dalam bukunya yang berjudul “The Religion of Java” pada tahun 1960.



Namun, perlu diingat bahwa setelah penelitian Geertz itu banyak perubahan sosial, ekonomi, dan politik yang terjadi di Indonesia dan masyarakat Jawa sendiri. Oleh karena itu, kategori-kategori tersebut mungkin tidak lagi relevan secara akurat pada konteks sosial dan budaya yang berbeda sekarang.

Meskipun begitu, beberapa unsur yang dibicarakan oleh Geertz dalam bukunya masih dapat ditemukan dalam masyarakat Indonesia saat ini. Beberapa masyarakat Indonesia masih memegang nilai-nilai tradisional seperti keberagamaan, kesederhanaan, dan toleransi, yang mungkin dapat dihubungkan dengan konsep Santri dan Abangan. Selain itu, Priyayi masih digunakan untuk menyebut kelompok elit atau golongan yang memiliki kekuasaan dan pengaruh yang besar dalam masyarakat Indonesia.

Dalam kesimpulannya, meskipun pembagian masyarakat Jawa oleh Geertz dalam bukunya masih mempengaruhi pemikiran tentang masyarakat Indonesia, kategori-kategori tersebut mungkin tidak lagi relevan secara akurat pada konteks sosial dan budaya yang berbeda saat ini.




Saat Ini Masyarakat Jawa Lebih Banyak Masuk Kategori yang Mana?

 

Priyayi, Santri, dan Abangan

Saat ini sulit untuk mengatakan dengan pasti kategori mana, (Priyayi, Santri, dan Abangan), yang lebih banyak ada pada masyarakat Jawa. Seiring berjalannya waktu dan perubahan sosial dan budaya yang terjadi di Indonesia, kategori-kategori yang dibuat oleh Geertz dalam bukunya “The Religion of Java” mungkin tidak lagi sepenuhnya relevan atau mewakili keadaan masyarakat Jawa saat ini.

Namun, dapat dikatakan bahwa masyarakat Jawa, seperti masyarakat Indonesia pada umumnya, memiliki keberagaman dan kompleksitas yang sangat tinggi. Ada berbagai kelompok, subkelompok, dan komunitas yang memiliki karakteristik dan kepercayaan yang berbeda-beda.

Beberapa masyarakat Jawa mungkin masih memegang nilai-nilai tradisional seperti keberagamaan, kesederhanaan, dan toleransi yang sering dikaitkan dengan konsep santri dan abangan. Namun, masyarakat Jawa juga sangat terbuka terhadap pengaruh dari budaya luar dan modernisasi yang dapat mempengaruhi pandangan dan perilaku mereka.

Dalam kesimpulannya, sulit untuk mengatakan kategori mana yang lebih banyak diikuti oleh masyarakat Jawa saat ini karena keberagaman dan kompleksitas yang sangat tinggi.




Dengan banyaknya lembaga-lembaga pendidikan Islam di Jawa saat ini, seperti pesantren dan sekolah-sekolah agama, apakah kelompok santri semakin bertambah banyak?




Memang benar bahwa Jawa memiliki banyak lembaga pendidikan Islam, seperti pesantren dan sekolah-sekolah agama, yang menawarkan pendidikan Islam kepada siswa-siswa mereka. Namun, sulit untuk mengatakan dengan pasti apakah kelompok santri semakin bertambah banyak di Jawa akibat dari adanya lembaga-lembaga tersebut.

Hal ini karena definisi santri dalam konteks Indonesia sendiri juga dapat dilihat dari sudut pandang yang berbeda-beda. Beberapa orang mungkin melihat santri sebagai orang yang belajar di pesantren, sedangkan yang lain mungkin melihatnya sebagai orang yang rajin beribadah dan mempelajari agama secara intensif. Oleh karena itu, sulit untuk mengukur secara akurat jumlah santri di Jawa atau di Indonesia secara keseluruhan.




Meskipun demikian, dapat dikatakan bahwa lembaga-lembaga pendidikan Islam seperti pesantren dan sekolah-sekolah agama memainkan peran penting dalam membentuk identitas dan karakteristik siswa-siswa mereka, termasuk dalam hal keagamaan dan moral. Mereka mungkin memberikan landasan kuat bagi siswa-siswa mereka untuk memahami dan mempraktikkan ajaran agama secara benar.

Dalam kesimpulannya, sulit untuk mengatakan dengan pasti apakah kelompok santri semakin bertambah banyak di Jawa karena adanya lembaga-lembaga pendidikan Islam tersebut, tetapi dapat dikatakan bahwa lembaga-lembaga tersebut memainkan peran penting dalam membentuk identitas dan karakteristik siswa-siswa mereka.

BACA JUGA: Keutamaan Memiliki Anak Hafidzul Qur’an




Kelompok Abangan Apakah Jumlah Mereka Masih Banyak?

Konsep abangan dalam antropologi telah banyak berubah dari waktu ke waktu, dan kategorisasi yang dilakukan oleh Clifford Geertz dalam bukunya “The Religion of Java” tidak sepenuhnya dapat diterapkan secara langsung pada masyarakat Jawa saat ini. Oleh karena itu, sulit untuk mengatakan dengan pasti apakah kelompok abangan masih ada dan berapa jumlah mereka saat ini.

Namun, secara umum, dapat dikatakan bahwa masyarakat Jawa saat ini memiliki berbagai latar belakang keagamaan dan budaya yang berbeda. Ada yang mengikuti ajaran agama secara tradisional, sementara yang lain lebih terbuka terhadap pengaruh dari budaya luar dan modernisasi.




Terlepas dari itu, masih ada beberapa kelompok masyarakat Jawa yang mengikuti tradisi-tradisi keagamaan dan budaya yang tidak termasuk dalam kategori santri, seperti yang digambarkan dalam konsep abangan.

Seiring dengan perkembangan sosial, politik, dan ekonomi, pola kehidupan dan kepercayaan masyarakat Jawa terus berubah. Oleh karena itu, sulit untuk memberikan penilaian yang pasti tentang apakah kelompok abangan masih ada dan berapa jumlah mereka saat ini. Namun, dapat dikatakan bahwa masyarakat Jawa saat ini memiliki keberagaman yang sangat tinggi dan kompleksitas yang tidak dapat dijelaskan dengan satu kategori atau definisi saja.




Definisi “Abangan” Menurut Geertz

Menurut Clifford Geertz dalam bukunya “The Religion of Java”, abangan adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan kelompok masyarakat Jawa yang tidak sepenuhnya mengikuti ajaran agama Islam secara tradisional. Istilah ini dipakai untuk membedakan kelompok masyarakat Jawa yang memiliki praktik keagamaan yang lebih terikat dengan tradisi animisme dan Hindu-Buddha yang sebelumnya berkembang di Jawa sebelum masuknya Islam ke pulau Jawa pada abad ke-15.

Priyayi, Santri, dan Abangan

Geertz menggambarkan abangan sebagai kelompok masyarakat Jawa yang masih memiliki praktik-praktik keagamaan dan budaya lokal sebelum masuknya Islam ke Jawa, seperti ritual-ritual keagamaan yang berasal dari kepercayaan animisme dan Hindu-Buddha, dan masih melakukan praktik-praktik seperti penolakan terhadap daging babi dan kepemilikan keris sebagai benda ritual. Kelompok abangan juga dapat diidentifikasi dari bentuk-bentuk seni dan sastra, seperti wayang kulit, lagu-lagu daerah, dan teater rakyat, yang merupakan bagian dari warisan budaya Jawa pra-Islam.

Dalam kategori abangan, Geertz juga mencakup kelompok masyarakat Jawa yang mengikuti ajaran Islam secara formal, tetapi praktik-praktik keagamaan mereka juga dicampur dengan kepercayaan dan praktik-praktik lokal yang berasal dari sebelum masuknya Islam ke Jawa.

Namun, perlu dicatat bahwa kategori abangan dalam antropologi telah banyak berubah dari waktu ke waktu dan tidak sepenuhnya dapat diterapkan pada masyarakat Jawa saat ini. Oleh karena itu, penggunaan istilah abangan dalam konteks saat ini dapat menjadi kurang relevan dan kontroversial.

BACA JUGA: Kemajuan Ilmu Pengetahuan Islam




Jika kategorisasi Geertz pada masyarakat Jawa sudah tidak relevan lagi, berarti masyarakat Jawa saat ini telah mengalami transformasi?

Priyayi, Santri, dan Abangan

Betul, masyarakat Jawa saat ini telah mengalami transformasi dalam beberapa dekade terakhir. Perubahan sosial, ekonomi, dan politik telah mempengaruhi pola pikir, perilaku, dan gaya hidup masyarakat Jawa. Transformasi tersebut meliputi peningkatan tingkat pendidikan dan akses informasi, modernisasi, globalisasi, dan urbanisasi.

Dalam hal keagamaan, masyarakat Jawa saat ini tidak dapat lagi secara tegas dibagi menjadi tiga kategori yang diberikan oleh Geertz. Kategori priyayi, santri, dan abangan tidak lagi memiliki batasan yang jelas dan seringkali saling bercampur dalam masyarakat Jawa saat ini.

Di satu sisi, masyarakat Jawa saat ini masih memiliki keberagaman dalam praktik keagamaan dan budaya lokal, yang dipengaruhi oleh sejarah dan pengaruh Hindu-Buddha, Islam, dan kepercayaan animisme. Namun, di sisi lain, masyarakat Jawa juga semakin terbuka terhadap arus modernisasi dan globalisasi, yang membawa pengaruh budaya dan teknologi dari luar.




Transformasi ini mencerminkan adaptasi masyarakat Jawa terhadap perubahan zaman dan pergeseran nilai-nilai kehidupan. Sebagai hasil dari transformasi ini, masyarakat Jawa saat ini semakin beragam dan kompleks, sehingga kategorisasi yang sederhana seperti yang diberikan oleh Geertz sudah tidak relevan lagi.

 

Transformasi sosial masyarakat Jawa itu apakah mulai terjadi saat meningkatnya jumlah kelas menengah di Indonesia atau bersamaan dengan lahirnya ICMI pada awal tahun 1990-an?




Transformasi sosial masyarakat Jawa terjadi bukan hanya karena satu faktor atau peristiwa tertentu, tetapi melibatkan faktor-faktor kompleks yang berasal dari berbagai latar belakang. Meskipun dapat dikatakan bahwa perkembangan kelas menengah dan adanya organisasi seperti ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) pada awal tahun 1990-an berdampak pada perubahan sosial di Indonesia, namun perubahan sosial telah terjadi sejak lama dan berkembang seiring waktu.

Transformasi sosial di Jawa terjadi dalam beberapa dekade terakhir, yang dipengaruhi oleh perubahan sosial, ekonomi, dan politik, seperti urbanisasi, modernisasi, dan globalisasi. Transformasi sosial ini terjadi sejak masa kolonial Belanda, saat orang-orang Jawa mulai terpapar pada budaya dan teknologi Barat. Transformasi ini semakin berkembang setelah kemerdekaan Indonesia, di mana masyarakat Jawa mengalami perubahan dalam pola pikir, gaya hidup, dan cara pandang mereka.




Kelas menengah dan organisasi seperti ICMI mungkin memberikan dampak pada transformasi sosial di Jawa, tetapi hal ini tidak dapat dipandang sebagai faktor utama dalam perubahan tersebut. Transformasi sosial merupakan proses yang kompleks dan melibatkan banyak faktor yang berbeda, seperti perubahan sosial, ekonomi, budaya, dan politik, serta pengaruh dari luar seperti globalisasi dan modernisasi.

 

 

Kreator/Editor :  Dezete

Image : Siciosite.net, Lazada

 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top
Scroll to Top