Kiat Jadi Pendakwah ala Uje

Kiat Jadi Pendakwah Ala Uje

Menyatu-padu (Unity)

Ibarat satu tubuh, susunan materi yang menyatu padu, ucap Uje, merupakan kesatuan yang tak dapat diceraiberaikan. Seluruh materi begitu menyatu-padu sehingga kompak seperti satu tubuh. Satu bagian melengkapi bagian yang lain. Dan hilangnya satu bagian bisa menyebabkan rusaknya atau tidak lengkapnya bentuk keseluruhan.

Kesatuan dalam isi, tujuan, dan sifat (mood)

Uje melanjutkan, agar sebuah materi menyatu-padu, ia haruslah merupakan kesatuan dalam tiga aspek sekaligus, yaitu kesatuan dalam isi, tujuan, dan sifat (mood).  Dalam isi, harus ada gagasan tunggal yang mendominasi seluruh uraian, yang merupakan pokok pembicaraan yang mendominasi seluruh pembicaraan. Gagasan tunggal itu biasanya tercermin dalam judul atau topik ceramah. Misalnya, ada ceramah topiknya tentang “Nikmatnya Rasa Syukur”, berarti materi tentang nikmat atau manfaat memiliki rasa syukur tersebut—dari yang mulai serius sampai yang kocak—akan mendominasi seluruh uraian. Pokok pembicaraan akan difokuskan pada mengungkapkan secara memikat dan penuh imbauan akan betapa nikmatnya punya rasa syukur tersebut. Sepanjang ceramah, kesatuan dalam isi (materi) atau topic ini benar-benar harus dijaga. Tanpa topik yang tegas, ceramah akan terasa hampar dan ngawur, tidak jelas apa yang sedang dibicarakan. Misalnya, dalam ceramah tentang nikmatnya rasa syukur itu, tiba-tiba sang penceramah berbelok jadi menerangkan kesabaran, maka topik syukur itu akan terasa buyar. Susunan materi juga harus memiliki satu macam tujuan saja. Tujuan ceramah tak lain adalah untuk “menggelitik”, menyentuh hati, atau menghimbau orang untuk beramal. Jadi tujuan utamanya adalah persuasi. Karena itu, semua bahan materi harus dicocokkan dengan tujuan utama ini. Kira-kira rumusan pokoknya: materi apa yang paling punya daya sentuh (persuasi) terhadap pendengar, sesuai dengan situasi mereka, materi itulah yang dijadikan pokok bahan. Materi untuk persuasi tentu yang paling berpengaruh adalah bahan-bahan dari sumber agama (Al-Qur’an dan hadits seterusnya). Tapi karena materi ini terlalu luas jadi kita harus pilih sesuai dengan kebutuhan dan situasi pendengar tadi. Karena tujuanya utamanya adalah persuasi, maka unsur-unsur lain seperti hiburan, informasi, aktualitas dll itu kita tempatnya sebagai penopang atau komplementer saja. Bukan sebagai hal yang pokok atau utama.

Tujuan persuasi perlu ditekankan

Tujuan persuasi ini perlu ditekankan karena akan menentukan pemilihan bahan, pemilihan kata, gaya bahasa, intonasi suara dan seterusnya. Bersamaan dengan kesatuan isi (topik), kesatuan tujuan ini akan menggerakkan susunan materi menjadi alur yang kompak dan lancar.

Kesatuan juga harus tampak pada sifat/gaya penyampaian (mood). Gaya itu bisa formal, informal, serius, sejuk, dan sebagainya. Kalau ceramah misalnya tujuannya persuasi, maka suasana, performa penceramah, gaya bahasa, intonasi suara, dan gaya-gaya penyampaian lainnya harus disesuaikan dengan tujuan ini. Misalnya, gaya bahasanya cukup akrab dan cair (tidak terlalu kaku dan resmi), intonasi suara yang sejuk dan berwibawa, performa yang religius pula.

Hal ini lain lagi misalnya dengan khutbah jumat, dimana suasana khidmat dan khusyuk menjalankan ibadah Jumat sangat mendominasi, sehingga tidak ada celah dan tidak sepantasnya memberikan unsur hiburan, yang membikin jamaah/audien tertawa. 

Tapi agak sedikit lain dengan ceramah nikah, karena ada sedikit celah untuk memberikan hiburan segar.

Kesimpualnya: materi bisa disebut menyatu-padu bila ketiga aspek materi itu, yakni isi (topic), tujuan, dan sifat (mood) sama-sama kompak menyatu-padu dan saling bahu-membahu dalam memenuhi tujuan dan target yang kita tetapkan.

Pertautan (Koherensi)

Syarat kedua supaya materi lancar adalah adanya pertautan. Yakni setiap bagian bertaut dan berkaitan satu sama lain secara seirama. Bertaut sedemikian rupa sehingga menyebabkan perpindahan dari satu bagian (gagasan) ke bagian lainnya berjalan lancar. Kalau kita renungkan, sebenarnya syarat menyatu padu (syarat pertama) sudah dengan sendirinya mencakup pula syarat pertautan. Karena tidak mungkin susunan materi bisa mnyatu padu tanpa adanya pertautan. Dengan kata lain, syarat menyatu padu sendiri sudah menuntut adanya pertautan. Jadi kalaupun pertautan ini dijadikan sebagai syarat kedua, fungsinya tak lain sekadar untuk penegasan dan kejelasan saja.

Tekanan (Emphasis)

Semua manusia terbatas daya tangkapnya, termasuk ketika mendengarkan ceramah. Nah adanya penekanan pada poin-poin penting bisa memudahkan penangkapan mereka, bisa mengkonsentrasikan ingatan mereka pada hal-hal penting. Hal-hal yang perlu ditekankan pada umumnya adalah: gagasan sentral (kalimat atau keterangan induk yang menjelaskan secara padat topic pembicaraan), ikhtisar uraian, nasehat-nasehat yang unik dan personal dari penceramah (orisinal dan segar), dan seterusnya. Sebagai kesimpulannya, susunan materi yang lancar memerlukan tiga syarat: menyatu-padu, ada pertautan, dan tekanan.

Cara Memenuhi ketiga syarat tersebut

Ketiga syarat diatas sebetulnya baru sebatas teori saja. Pertanyaan berikutnya, bagaimana cara memenuhi ketiga syarat tersebut? Uje mengatakan, paling sulit memang memenuhi ketiga syarat tersebut, karena menuntut adanya “latihan ekstra keras”. Dan tidak ada kemudahan kecuali melalui kesulitan, sebagaimana ditegaskan oleh Al-Qur’an. Dan tidak ada cara untuk menerobos kesulitan itu selain melalui “latihan-latihan ekstra”. Seorang orator ulung pernah berkata, “Pendengar hanya mau mengingat kehebatan kita sewaktu berpidato, dan tidak mau tahu kalau yang membuat kehebatan itu adalah proses persiapan yang sangat panjang.”  Betul juga, kalau ceramah kita hebat, dan banyak membuat orang berdecak kagum, jarang sekali ada orang yang berkomentar, “Ya pantas aja karena dia latihan terus!” Yang ada malah hujan pujian terhadap kehebatan saat di atas podium itu. Di sinilah letak kekuatan latihan panjang itu: sebagai senjata rahasia yang kekuatannya luar biasa. Dan untuk menopang latihan itu, supaya terarah dan lebih maskimal, teknik-teknik penyusunan materi sangat bermanfaat. Teknik-teknik ini tepatnya berupa teknik-teknik pembuatan outline (garis-garis besar pidato), yang sangat membantu penceramah dalam mengontrol lancar tidaknya susunan materi yang sedang atau akan diceramahkan. Pada pokoknya teknik outline itu terbagi dua, yaitu pertama, outline yang menggunakan lambang angka, atau kombinasi lambang angka dan huruf. Kedua, outline yang menggunakan ‘pohon’ gagasan.

Tahap Penyampaian Ceramah

Setelah membuat persiapan yang matang, menguasai materi yang akan disampaikan, maka tugas selanjutnya adalah detik-detik yang paling menentukan, yaitu tahap penyampaian isi ceramah itu sendiri. Tahap penyampaian merupakan unsur terpenting dalam ceramah, karena khalayak hanya dapat menilai sewaktu kita berceramah saja. Seorang orator ulung ketika ditanya apa unsur terpenting dari ceramah, dia menjawab:  “Penyampaian”. Ketika ditanya kedua dan ketiga kalinya, dia tetap menjawab “Penyampaian”.

Tahap Penyampaian ini paling menentukan

Kalaupun tahap penyampaian ini paling menentukan, dan biasanya sangat mendebarkan terutama bagi pemula,  tapi tahap ini sebenarnya hanya tahap lanjutan dari tahap-tahap sebelumnya. Yakni, satu tahap akhir yang bila seseorang sudah cukup terlatih maka akan jauh lebih mudah dari tahap sebelumnya. Dalam tahap penyusunan materi, penceramah perlu menguras otak untuk mengingat seluruh materi yang relevan dengan topik yang diminta. Juga perlu kreasi tinggi untuk menyusun materi itu menjadi susunan yang tertib dan lancar. Sedangkan dalam tahap penyampaian sebenarnya penceramah tinggal meng-acting-kan apa yang sudah jelas dalam benak. Jadi tingkat kesulitannya sebenarnya lebih pada proses penyusunan, sedangkan pada tahap penyampaian sebenarnya sudah tinggal mudahnya saja.

Inti Penyampaian adalah acting

Inti penyampaian adalah acting. Yang dimaksud acting disini adalah mengutarakan apa yang sudah jelas di benak dengan mengerahkan seluruh kekuatan ekspresi, mulai dari dalam jiwa, lalu ekspresi suara, mimik muka, gerak tubuh, kontak mata, dan seterusnya, persis seperti ketika kita main teater: dengan maksud agar pengaruh yang dihasilkan sangat maksimal. Jadi acting di sini bukan berarti pura-pura, melainkan pemaksimalan ekspresi dengan segenap ekspresi kita. Dan untuk menghasilkan “acting” penyampaian yang maksimal, penceramah perlu memenuhi tiga rukun. Yaitu 1)Kontak mata atau kontak visual dengan hadirin, cukup disingkat dengan kontak mata; 2) Olah vokal atau suara; dan 3) Olah tubuh atau bahasa tubuh, yakni berbicara dengan seluruh kepribadian kita: mimik muka, tangan, tubuh, dan seterusnya.

Teknik-Teknik Humor

Dalam pandangan Uje, yang menyebabkan orang itu tertawa atau merasa terhibur biasanya ada dua, yaitu karena adanya keganjilan dan kejutan mendadak. Keganjilan maksudnya hal-hal yang diluar standar normal kita. Termasuk keganjilan misalnya adalah kekurangan/cacat, hal-hal menyimpang dan seterusnya. Sedangkan kejutan mendadak adalah menemukan sesuatu yang mencengankan atau mengagetkan secara tiba-tiba. Dalam seni humor tentu kejutan yang tiba-tiba itu sengaja dibuat oleh pelaku humor, entah dengan mengecoh penonton/audiens terlebih dahulu, entah dengan apa. Biasanya dampak tertawa dari kejutan ini sebesar daya kecohnya, sejauh pelaku bisa “mengocok” jiwa penonton/audiens. Ada macam-macam teknik atau bentuk humor yang menggunakan dua sebab pokok diatas. Dari sebab pertama (keganjilan) ada teknik-teknik humor Eksegrasi (melebih-lebihkan), Parodi, dan Anekdot. Sedangkan dari sebab kedua (kejutan mendadak) ada teknik Belokan Mendadak, Puns, dan Pantun.

BACA JUGA: Puasa Senin Kamis, Keutamaan Dan Manfaat Nya

Eksegrasi

Eksegersi adalah tindakan melebih-lebihkan yang bisa menimbulkan rasa lucu, bila tindakan melebih-lebihkan itu bisa diterima oleh audiens. Contohnya seorang pelawak yang memiliki bibir yang monyong, lalu dia bertindak memonyong-monyongkan bibirnya, maka akan memancing tawa orang lain. Tapi tindakan itu tidak dibuat-buat atau dipaksakan.

Parodi

Parodi adalah bentuk peniruan secara ganjil terhadap karya orang lain dengan maksud melucu. Karyanya bisa lagu, puisi, gaya pidato dan sebagainya. Syaratnya karya yang ditiru itu sudah sangat terkenal, atau sudah menancap di otak khalayak. Ada dua unsur menonjol dari parodi yang menyebabkan lucu. Pertama adalah peniruan yang sedemikian persis. Kedua, peniruan yang ada unsur pengejekan, sikap kurang ajar, dan meledek terhadap tokoh yng dulu kita sanjung dan hormati.

Anekdot

Anekdot adalah kisah menarik dan lucu yang berkaitan dengan para tokoh besar, yang sudah akrab dan mendapat tempat di hati kita. Sifat-sifat dan watak pribadinya bahkan sudah kita kenal.

Belokan mendadak

Bentuk belokan mendadak sudah kita terangkan diawal. Intinya, orang akan tertawa karena kita kasih kejutan mendadak. Kejutan itu bisa dari cerita rekaan, bisa juga dari cerita nyata (kisah hidup).

Puns

Puns sebenarnya tidak jauh beda dengan teknik belokan mendadak. Keduanya sama-sama memberi kejutan. Hanya beda cara. Belokan mendadak mengecoh pendengar dengan menggunakan belokan pada scenario cerita. Sedangkan puns mengecoh dengan menggunakan permainan kata.

Pantun

Pantun juga sebenarnya memberi kejutan, yakni dengan permainan susunan kata khas pantun. Kecerdasan si pemantun yang secara spontan bisa mengeluarkan khas pantun, biasanya selalu saja membuat kita tertawa. Lucu dan implicitely (secara implisit) mengakui kecerdasan si pemantun. Demikian sekilas Kiat Jadi Pendakwah ala Uje  atau panduan teknis untuk menjadi seorang pendakwah atau dai ulung yang diambil dari ilmu yang disampaikan oleh almarhum Ustadz Jefri Al-Buchori (Uje). Semoga bermanfaat dan berguna bagi siapa saja yang bercita-cita menjadi seorang pendakwah yang sukses di kemudian hari.  

Referensi :

  • Jefri Al-Buchori, Kiat Jadi Dai Muda, Pustaka IIMAN Cinere Depok, Cetakan I November 2005.

Image : Dezete

Author dan Editor : Dezete

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top
Scroll to Top