Kisah Zaenab Putri Tertua Rasulullah Saw

Kisah Zaenab Putri Tertua Rasulullah Saw

Kisah Zaenab, Putri Tertua Rasulullah Saw. Dari perkawinan Beliau dengan Ummul Mu’minin Siti Khadijah, Rasulullah Saw dikaruniai enam orang anak, yaitu dua putra dan empat putri. Putra pertama bernama Al-Qasim, anak pertama Rasulullah yang dilahirkan sebelum kenabian, karena kelahirannya ini Beliau dijuluki Abul Qasim. Ia sempat hidup hingga bisa berjalan dan meninggal sebelum Beliau diangkat sebagai Rasul. Dan dia pula yang pertama meninggal di antara putra-putri Beliau.

BACA JUGA: KITAB : ADAB SOPAN SANTUN, HUBUNGAN SILATURRAHMI, TAAT BAKTI ; BAB: FADHILAH ORANG YANG KEMATIAN ANAK KECIL

Putra kedua adalah Abdullah, yang lahir setelah Kerasulan dan meninggal saat masih kecil. Sayangnya, sejarah tidak mencatat berapa lama usianya. Dia dijuluki At-Thayib (yang wangi dan suci). Adapun empat putri Beliau adalah Zaenab, Ruqayyah, Ummu Kultsum dan Fathimah. Semuanya dilahirkan sebelum Kenabian, hidup dalam Islam, menikah dan ikut berhijrah. Zaenab, Putri tertua Rasulullah saw sedangkan yang termuda (bungsu) adalah Fathimah. Kisah Zaenab, Putri Tertua Rasulullah Saw. Termasuk di antara mereka adalah Ali bin Abi Thalib yang diasuh Rasululluh untuk meringankan beban paman beliau, Abu Thalib, yang miskin dan banyak anak. Tapi Ali r.a. hanya anak angkat Beliau Saw.

Nabi Mengasuh Ali, Abbas Mengambil Ja’far

Ibnu Ishaq menyebutkan dalam kitab Sirah sebagai berikut: “Di antara nikmat Allah terhadap Ali bin Abi Thalib adalah ketika banyak orang Quraisy tertimpa krisis ekonomi yang hebat, termasuk keluarga Abu Thalib yang memiliki banyak anak. Maka, Rasulullah berkata kepada paman beliau, Abbas, yang hidup berkecukupan, “Wahai pamanku, sesungguhnya Abu Thalib banyak anak sedangkan orang-orang tertimpa krisis ekonomi seperti yang kamu lihat sekarang. Maka mari kita mendatanginya dan mengurangi beban keluarganya dengan masing-masing mengambil satu anak agar tercukupi kebutuhannya.” Abbas pun berkata, “Mari kita kesana.” Maka mereka mendatangi Abu Thalib dan berkata,”Kami ingin meringankan beban keluargamu, agar kesusahan yang menimpamu berlalu.” Abu Thalib menjawab, “Terserah pada kalian, asal kalian tinggalkan untukku Uqail dan Thalib.” Akhirnya Rasulullah mengambil Ali untuk diasuh dan Abbas mengambil Ja’far.

BACA JUGA: BAB: WAJIB CINTA KEPADA RASULULLAH LEBIH DARI KEPADA ANAK, KELUARGA DAN SEMUA MANUSIA

Ali Mengimani Kerasulan Nabi Saw

Semenjak diasuh Rasulullah, Ali senantiasa bersamanya sampai beliau diangkat menjadi Nabi. Ketika itu dialah orang pertama yang beriman atas Kerasulan Nabi Muhammad, membenarkan dan mengikuti petunjuk beliau. Sedangkan Ja’far bersama Abbas sampai dia masuk Islam, dan sejak itu tidak lagi bergantung padanya.

Khadijah Meng-aqiqahi Putra dan Putrinya

Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari al-Waqidi bahwa Khadijah r.a. beraqiqah dengan dua kambing untuk setiap anak beliau yang laki-laki dan satu kambing untuk yang perempuan. Dia sendiri yang menyusui anak-anaknya dan mempersiapkan segalanya sebelum kelahiran mereka. Dan jarak usia anaknya yang satu dengan lainnya, rata-rata satu tahun.

Mengasuh dan Mencarikan Suami bagi Putrinya

Sebagaimana Khadijah memperhatikan kelahiran anak-anaknya, menyusui dan mengasuh mereka, dia juga memilihkan calon suami bagi putri-putrinya. Dialah yang mengusulkan kepada Nabi agar menikahkan Abu al-Ash bin ar-Rabi’ dengan putrinya, Zaenab. Di hari pernikahannya, Khadijah memberi hadiah perkawinan berupa kalung yang di kemudian hari ternyata membawa pengaruh pada diri Rasulullah. Ketika tokoh-tokoh kafir Quraisy menyuruh Abu Al-Ash untuk menceraikan Zaenab sebagai wujud permusuhan dengan Nabi Muhammad Saw. Ternyata dia menolak, meski dia sendiri belum masuk Islam. Berikutnya, Usman bin Affan menikahi Ruqayyah. Dan ketika putri Nabi itu wafat, maka Beliau melihat Usman sedih dan murung. Itu sebabnya, tak lama kemudian Beliau menikahkan dia dengan putrinya yang lain, yaitu Ummu Kultsum. Sedangkan Fathimah sendiri mendapat tempat yang istimewa di samping suaminya, Ali bin Abi Thalib.

 

Kisah Zaenab Putri Tertua Rasulullah Saw

Zaenab adalah putri tertua Rasulullah Saw. Ia dilahirkan saat Beliau berusia tiga puluh tahun, yaitu lima tahun setelah perkawinan beliau dengan Khadijah. Mengimani Islam dan masuk agama tersebut serta ikut berhijrah bersama kaum Muslim setelah perang Badar.

Menikah dengan Abu Al-Ash

Dia kawin dengan anak bibinya, yaitu Abu Al-Ash bin Ar-Rabi’. Lalu tinggal bersamanya sebagai Muslimah, sedangkan suaminya tetap musyrik hingga Rasulullah berhijrah. Islam sebenarnya telah memisahkan keharmonisan antara Zaenab –ketika dia masuk Islam—dengan Abu Al-Ash. Hanya saja, Rasulullah tidak berdaya untuk menceraikan keduanya. Akibatnya, Zaenab masih tinggal bersama suaminya yang kafir. Tatkala pasukan kafir Quraisy menuju medan Badar, di antara mereka terdapat Abu Al-Ash bin Ar-Rabi’ (menantu Rasulullah) yang tertawan saat perang dan dibawa ke Madinah oleh pasukan Muslimin. Nah, ketika para penduduk Mekkah mengirim utusannya untuk menebus para tawanan Badar tersebut, maka Zaenab binti Rasulullah menyertakan kalungnya yang diberikan Khadijah di hari pernikahannya sebagai tebusan buat suaminya.

Rasulullah minta pembebasan Abu Al-Ash

Saat Rasulullah Saw melihatnya, hati beliau terharu sehingga berkata pada para sahabatnya, “Kalau kalian ingin melepaskan tawanan tersebut untuk Zaenab dan mengembalikan harta tebusannya, lakukanlah.” Mereka menjawab, “Ya wahai Rasulullah.” Tak lama kemudian, mereka membebaskan Abu Al-Ash berikut harta tebusan dan kalungnya.

Rasulullah minta Zaenab dibolehkan ikut Hijrah

Cuma, sebagai syarat pembebasannya, Rasulullah meminta dari Abu Al-Ash agar membiarkan Zaenab ikut berhijrah ke Madinah bersama beliau. Dan Abu Al-Ash menjanjikan hal tersebut. Selain itu, Rasulullah juga membebaskan As-Saib bin Ubaid dan Ubaid bin Amru bin Al-Qamah tanpa tebusan. Karena keduanya tidak punya harta dan tidak ada yang menebus mereka. Di antara tawanan kafir Quraisy itu ada yang bisa membaca dan menulis, sementara di antara orang-orang Anshar sendiri masih ada yang buta huruf. Maka, Rasulullah meminta mereka –bagi yang tidak punya harta tebusan—unutk mengajari baca-tulis kepada sepuluh anak kaum Muslim.

Rasulullah mengutus Zaid bin Haritsah untuk menyusul Zaenab

Tatkala Abu Al-Ash sudah kembali ke Mekkah, sekitar sebulan kemudian Rasulullah mengutus Zaid bin Haritsah dan satu orang Anshar untuk menyusul Zaenab sambil berpesan, “Tinggallah kalian di lembah Ya’jaj (tempat sejauh 8 mil dari Mekkah) sampai Zaenab lewat tempat tersebut dan temani sampai kesini (Madinah),” Akhirnya mereka berdua mendatangi tempat tersebut. Ketika Abu Al-Ash sampai di Mekkah, dia menyuruh Zaenab menemui ayahnya di Madinah sebagai hasil kesepakatan dari perjanjian sebelumnya. Maka tanpa banyak masalah, dia pun mempersiapkan diri untuk menuju ke Madinah.

Kisah Rencana Hijrahnya Zaenab Putri Tertua Rasulullah Saw

Mengenai kisah perjalanannya, Zaenab r.a. menceritakan sebagai berikut: “Saat aku bersiap-siap untuk mendatangi ayahku, Hindun binti Utbah datang dan berkata, ‘ Hai putri Muhammad, bukankah kamu mau menemui ayahmu?’ Kujawab, ‘Apa yang kamu inginkan?’ Dia berkata,’Hai anak pamanku, jangan kau lakukan hal tersebut. Andai kamu memerlukan barang atau harta sebagai bekal perjalanan menuju ayahmu, saya bisa memberimu. Maka jangan malu untuk meminta dan menuduhku. Karena kebutuhan perempuan tidak sama dengan kebutuhan laki-laki,’” Selanjutnya Zaenab menjawab, “Demi Allah, saya tidak memerlukannya.” Hindun berkata lagi, “Kami tinggal meminta.” Tapi Zaenab tetap menolak, kemudian tak menghiraukannya lagi. Dia tetap asyik mempersiapkan keperluannya sendiri.

Kisah Zaenab, Putri Tertua Rasulullah Saw diantar Kinanah keluar Mekkah

Ketika Zeanab r.a. selesai mempersiapkan segala bekal buat keberangkatannya, maka saudara suaminya, yaitu Kinanah bin Rabi’, datang membawa onta. Kemudian onta dikendarai Zaenab, sementara Kinanah menuntunnya. Mereka keluar kota Mekkah siang hari, dan Zaenab dalam sedekupnya. Kepergian Zaenab tak pelak menjadi pembiacaraan hangat orang-orang Quraisy. Apalagi mereka saat itu baru saja kalah perang Badar, dimana dari pihak kafir Quraisy banyak yang gugur. Maka, mereka segera mencari Zaenab dan Kinanah. Hingga akhirnya menemukannya di Dzi Thuwa (sebuah desa di dekat Mekkah).

Kisah Zaenab Putri Tertua Rasulullah Saw diserang pasukan kafir Quraisy

Yang pertama mendatanginya adalah Hibar bin Al-Aswad bin al-Muthalib dan Nafi’ bin Abdi Qais. Kemudian Hibar menyerang onta Zaenab dengan tombak hingga jatuh dan Zaenab terlempar ke batu. Padahal dia sedang mengandung yang mengakibatkannya keguguran. Akibat peristiwa itu, darah terus menetes dari rahimnya, sehingga putri Rasulullah itu wafat di Madinah beberapa tahun kemudian setelah Abu Al-Ash, suaminya resmi masuk Islam. Tentang peristiwa penyerangan itu Kinanah bercerita, “Tidak seorang pun yang menolong kami. Mereka semua melempar panah kea rah onta kami.” Kemudian Kinanah dan Zaenab kembali ke Mekkah dan mendatangi Abu Sufyan (belum masuk Islam) yang saat itu tengah bersama pemuka Quraisy. Maka Abu Sufyan berkata kepada Kinanah, “Hentikan ocehanmu dan biarkan kami bicara padamu.” Maka dia pun diam.

Abu Sufyan memarahi Kinanah

Kemudian Abu Sufyan berkata lagi, “Kamu bersalah. Kamu sengaja keluar dengan perempuan (binti Rasulullah) yang berada di tengah-tengah kami. Padahal kamu sendiri mengetahui bencana dan kesusahan kami diakibatkan oleh Muhammad. Gara-gara ulahmu, orang akan mengira bahwa kamu sengaja keluar dengan perempuan yang sedang dalam pengawasan kami. Padahal hal itu adalah merendahkan dan musibah yang menimpa kami dan itu menunjukkan kelemahan dan penghinaan pada kami. Dan demi hidupku, kami tidak bermaksud menahannya untuk menemui ayahnya, juga tidak ingin membalas dendam padanya. Sekarang pulanglah dulu bersamanya. Dan kalau keadaan sudah tenang dan orang sudah mengetahui bahwa kami telah mengembalikannya, pertemukan dan serahkan dia pada ayahnya secara rahasia.”

Kinanah menyerahkan Zaenab kepada Zaid

Kinanah menuruti nasehat tersebu. Zaenab sendiri masih tinggal di Mekkah untuk beberapa malam hingga orang tidak lagi membicarakannya. Di saat itulah mereka keluar di malam hari. Lalu Kinanah menyerahkan Zaenab pada Zaid bin Haritsah dan temannya yang sudah menunggu di lembah Ya’jaj, yang lalu membawanya ke Madinah untuk bertemu dengan ayahnya (Rasulullah saw).

Abu Al-Ash Berpisah dengan Zaenab

Abu Al-Ash kemudian tinggal sendiri di Mekkah tanpa ditemani istrinya, Zaenab bin Rasulullah saw, karena Islam telah memisahkan keduanya. Padahal keduanya masih saling mencintai. Sebelum penaklukan kota Mekkah, Abu Al-Ash keluar berdagang ke Syam (Syria). Dia sebetulnya orang yang bisa dipercaya untuk memberi keuntungan pada harta dagangan orang lain dari suku Quraisy. Ketika dia selesai berdagang dan pulang menuju Mekkah, rombongannya bertemu dengan pasukan perang yang diutus oleh Rasulullah, hingga mereka merampas hartanya dari hasil perdagangannya, sementara dia sendiri melarikan diri.

Abu Al-Ash mencari perlindungan ke Zaenab

Tatkala pasukan Muslim tersebut kembali ke Madinah dengan pampasan (harta rampasan) perang, di malam gelap diam-diam Abu Al-Ash mendatangi dan menemui Zaenab r.a. untuk mencari perlindungan dan meminta kembali hartanya yang dirampas pasukan Muslimin. Di saat Rasulullah keluar untuk menunaikan shalat Subuh, lalu beliau mengangkat takbir dan para jamaah pun bertakbir, tiba-tiba Zaenab bersuara keras dari barisan shaf perempuan. “Hai para jamaah, saya telah melindungi Abu Al-Ash bin Rabi’.” Ketika Rasulullah telah mengucapkan salam tanda selesai shalat, beliau menghadap ke arah jamaah lalu berkata, “Adakah kalian dengar apa yang telah saya dengar ?” Serentak mereka menjawab, “Ya.” Selanjutnya beliau berkata, “Demi diriku yang berada di tangan-Nya, saya tidak mengetahui sesuatu tentang hal tersebut sampai saya mendengar apa yang kalian dengar bahwa dia minta perlindungan dari kaum Muslimin.”

Rasulullah mengizinkan Zaenab memberikan perlindungan

Kemudian Rasulullah saw masuk menemui putri beliau dan berkata, “Hai putriku, berilah tempat dan layanan yang baik padanya. Tapi jangan sampai dia menyentuhmu, karena kamu tidak halal baginya.”

Rasulullah meminta pasukan Muslimin mengembalikan harta Abu Al-Ash yang dirampas

Setelah itu beliau mendatangi pasukan  yang mendapat harta Abu Al-Ash dan berkata, “Keberadaan orang ini bagi sudah kalian ketahui dan kalian telah mendapatkan hartanya. Kalau kalian mau berbuat baik dan mengembalikan hartanya, kami menyukai hal tersebut. Tapi kalau kalian menolak, maka harta tersebut adalah pampasan perang dari Allah yang Dia berikan pada kalian dan kalian lebih berhak menerimanya.” Di luar dugaan, mereka menjawab, “Kami bahkan akan mengembalikan padanya.”  Akhirnya, ada yang datang membawa ember, ada yang membawa tempat air dan peralatan lainnya, lalu mengembalikan hartanya tanpa kehilangan sedikit pun. Selanjutnya, Abu Al-Ash membawanya ke Mekkah dan memberikan harta tersebut kepada masing-masing pemiliknya, sabil berkata, “Hai orang Quraisy, adakah di antara kalian yang belum mengambil hartanya dariku?” Mereka menjawab, “Tidak ada. Demi Allah, kami telah mendapatimu sebagai orang yang mulia lagi menepati janji.”

Abu Al-Ash Bersyahadat Masuk Islam

Tak lama kemudian, Abu Al-Ash berikrar, “Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Demi Allah, tidak ada yang menahanku untuk masuk Islam waktu bersama Muhammad, kecuali kekhawatiran kalian yang mengira bahwa saya ingin mengambil harta kalian. Ketika Allah telah mengembalikannya pada kalian, saya pun selesai dari tugas yang diembankan, dan kini saya masuk Islam.”

Rasulullah menikahkan kembali Abu Al-Ash dengan Zaenab

Setelah berikrar demikian, Abu Al-Ash mendatangi Rasulullah Saw. Kemudian beliau mengembalikan Zaenab kepadanya dengan nikah yang baru (menurut syariat Islam) di tahun ke-7 Hijriyah. Maka berkumpullah kembali unsur yang terobek, dan bertemu lagi pasangan suami-istri yang telah terpisah dalam waktu yang lama itu.

Zaenab wafat setelah belum setahun berkumpul

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top
Scroll to Top