Manajemen Rumah Tangga Rasulullah SAW

Manajemen Rumah Tangga Rasulullah Saw

 

Manajemen Rumah Tangga Rasulullah Saw. Rasulullah Saw adalah contoh yang sempurna serta suri teladan yang baik bagi kemanusiaan.  Khususnya, dalam hal perlakuan yang baik dan patut terhadap istri-istri atau para Ummul Mu’minin, serta dalam hal pembagian yang adil pada masalah bermalam, pembagian nafkah, kelembutan dan kemurahan. Juga dalam menghadapi kemarahan, kecemburuan, dan perselisihan di antara mereka, beliau lakukan dengan sabar, halus, dan nasehat yang baik. Abdul Wahhab Hamudah pernah menulis sebuah buku tentang Manajemen Rumah Tangga Rasulullah Saw, yang diterjemahkan oleh Ibnu Mukhtar, dan diterbitkan oleh Pustaka Hidayah, pada tahun 2000 silam. Berikut ini gambar sekilas tentang potret rumah tangga Rasulullah Saw.

Rasulullah saw Dengan Keluarga Beliau

Pagi Memberikan Pengajaran & Sore Bercengkerama

Pada pagi hari Beliau Saw mengunjungi mereka semua untuk memberikan nasehat dan pengajaran. Sedangkan pada sore harinya digunakannya untuk bercengkerama dan bersenang-senang. Mereka pun berkumpul bersama Beliau di rumah masing-masing.

Melakukan Pekerjaan Rumah/Keluarga

Ketika di rumah, Beliau Saw melakukan pekerjaan keluarga dan memenuhi keperluan dengan tangan beliau sendiri. Ummul Mu’minin Aisyah pernah berkata, “Rasulullah Saw tidak pernah sama sekali memukul istri dan pembantu beliau dengan tangan.” Ummul Mu’minin Aisyah pernah pula ditanya tentang apa yang biasa dilakukan beliau saat berada di rumah istrinya. Maka, dia menjawab, “Beliau melakukan pekerjaan istrinya, dan apabila tiba waktu shalat beliau bergegas mengerjakan shalat. Beliau juga menjahit pakaiannya, memperbaiki sandalnya, menambal timbanya, memerah kambing dan melayani dirinya sendiri.” Ini sering dilakukannya pada beberapa waktu.

Dalam hadits lainnya, ‘Aisyah radhiallahu ‘anha menceritakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan hal-hal sederhana untuk membantu istri-istri beliau semisal mengangkat ember dan menjahit bajunya.

عن عروة قال قُلْتُ لِعَائِشَةَ يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِيْنَ أي شَيْءٌ كَانَ يَصْنَعُ رَسُوْلُ اللهِ  صلى الله عليه وسلم  إِذَا كَانَ عِنْدَكِ قَالَتْ مَا يَفْعَلُ أَحَدُكُمْ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ يَخْصِفُ نَعْلَهُ وَيُخِيْطُ ثَوْبَهُ وَيَرْفَعُ دَلْوَهُ

Urwah berkata kepada Aisyah, “Wahai Ummul Mukminin, apakah yang dikerjakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika ia bersamamu (di rumahmu)?”, Aisyah berkata, “Ia melakukan (seperti) apa yang dilakukan oleh salah seorang dari kalian jika sedang membantu istrinya, ia memperbaiki sendalnya, menjahit bajunya, dan mengangkat air di ember” (HR Ibnu Hibban).

Meski beliau mempunyai beberapa orang pembantu, tetapi terkadang ada pekerjaan yang dikerjakannya sendiri, terkadang dikerjakan oleh orang lain, dan sering pula dilakukan bersama-sama.

Manajemen Rumah Tangga Rasulullah Saw dengan Ummul Mu’minin Aisyah

Menonton Orang Habasyah Bermain Pedang

Suatu hari Rasulullah Saw menghadirkan beberapa orang putri Anshar untuk Ummul Mu’minin Aisyah agar mereka bermain bersamanya. Pernah pula Beliau memperkenankannya nonton sejumlah orang Habasyah (Ethiopia) yang sedang bermain pedang di masjid sebagai bentuk latihan dalam menghadapi peperangan. Sementara Aisyah pada waktu itu bersandar di pundak beliau, dan beliau pun tidak pergi sampai Aisyah sendiri yang menginginkan pergi.

Lomba Lari dengan Ummul Mu’minin Aisyah

Diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw pernah berlomba dengan Ummul Mu’minin Aisyah dan ternyata Ummul Mu’minin berhasil mendahului beliau. Kemudian pada saat tubuh istri tersebut mulai gemuk, mereka pun berlomba lagi dan kali ini Beliau Saw berhasil mendahuluinya, seraya berkata, “Kemenangan ini untuk menebus kekalahan yang terdahulu.” Ummul Mu’minin Aisyah menceritakan tentang perlombaan olahraga tersebut. Diceritakannya, bahwa ia berangkat bersama Beliau dalam suatu perjalanan, sedangkan pada waktu itu dirinya seorang wanita belia yang bertubuh ramping dan tidak mempunyai daging yang padat. Nabi Saw berseru kepada rombongannya, “Kalian berjalanlah lebih dahulu.” Maka mereka pun berjalan lebih dahulu.

Nabi Berjiwa Sportif

Kemudian Beliau Saw berkata kepada Ummul Mu’minin Aisyah, “Ayo supaya aku dapat mendahuluimu.” Maka keduanya pun saling berlomba, dan ternyata Aisyah berhasil mengalahkannya. Namun, Beliau hanya diam saja tidak menggerutu, sebagaimana layaknya seseorang yang memiliki jiwa sportif. Ummul Mu’minin Aisyah melanjutkan ceritanya, “Hingga suatu saat tubuhmu gemuk dan bobotnya bertambah, dan kebetulan kami bersama-sama lagi dalam suatu perjalanan. Maka beliau pun berseru kepada rombongannya, ‘Kalian silahkan berjalan duluan.’ Mereka pun berjalan lebih dulu. Lalu Beliau berkata kepada Ummul Mu’minin Aisyah, ‘Ayo supaya aku dapat mendahuluimu.’ Maka mereka pun saling berlomba hingga akhirnya Rasulullah Saw dapat mengalahkanku. Maka beliau pun tertawa seraya mengatakan, ‘Kemenangan ini untuk menebus kekalahan yang terdahulu.’”  

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top
Scroll to Top