ilmu waris

Seberapa Penting Ilmu Waris Bagi Kaum Muslim?

Isi Artikel



Ilmu waris atau ilmu faraid adalah ilmu dalam hukum Islam yang mengatur pembagian harta warisan setelah seseorang meninggal dunia. Ilmu waris bertujuan untuk memastikan bahwa harta warisan dibagi dengan adil sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan dalam syariat Islam. Ilmu waris sangat penting bagi masyarakat Muslim untuk mengetahui hak dan kewajiban mereka dalam mengelola harta warisan dan menjaga keadilan dalam pembagian harta tersebut.



Seberapa Penting Ilmu tentang Waris?

Ilmu waris sangat penting bagi masyarakat Muslim karena berkaitan langsung dengan masalah keadilan dalam pembagian harta warisan. Dalam Islam, pembagian warisan harus dilakukan dengan adil sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan dalam syariat Islam. Jika tidak memahami ilmu waris dengan baik, maka dapat terjadi ketidakadilan dalam pembagian harta warisan, yang dapat memicu konflik antar anggota keluarga dan bahkan dapat berdampak pada keutuhan keluarga itu sendiri.



Selain itu, pengetahuan tentang ilmu waris juga sangat penting dalam perencanaan keuangan. Seorang Muslim perlu mengetahui hak dan kewajibannya dalam mengelola harta dan mempersiapkan diri untuk membagikan harta tersebut dengan adil kepada ahli waris setelah ia meninggal dunia. Dengan memahami ilmu waris dengan baik, seseorang dapat merencanakan secara matang dan menjaga keadilan dalam pembagian harta warisan, sehingga dapat menghindari konflik dan masalah keluarga di kemudian hari.




Kenapa Masih Sedikit Kaum Muslim yang Mempelajari Ilmu Waris?

Ada beberapa faktor yang dapat menjelaskan mengapa masih sedikit kaum Muslim yang mempelajari ilmu waris, di antaranya:

Pertama, Kurangnya pemahaman tentang pentingnya ilmu waris

Banyak orang mungkin tidak menyadari betapa pentingnya mempelajari ilmu waris. Mereka mungkin menganggap ilmu waris sebagai masalah teknis yang hanya relevan dalam situasi tertentu, seperti ketika seseorang meninggal dunia. Padahal, ilmu waris berkaitan dengan masalah keadilan dalam pembagian harta, yang sangat penting bagi kehidupan berkeluarga.

Kedua, Kompleksitas ilmu waris

Ilmu waris merupakan ilmu yang kompleks dan memerlukan pemahaman yang mendalam tentang hukum Islam. Oleh karena itu, tidak semua orang merasa nyaman untuk mempelajarinya, terutama jika mereka tidak memiliki latar belakang pendidikan agama yang cukup.

Ketiga, Kurangnya akses ke sumber belajar



Sumber belajar mengenai ilmu waris masih terbatas dan sulit ditemukan, terutama bagi mereka yang tinggal di daerah terpencil atau memiliki akses terbatas ke internet atau buku-buku tentang agama.

Keempat, Prioritas yang berbeda

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang lebih memilih untuk fokus pada pekerjaan, bisnis, atau kegiatan sosial lainnya daripada mempelajari ilmu waris. Hal ini terutama berlaku bagi mereka yang memiliki kesibukan yang tinggi dan merasa sulit untuk menemukan waktu untuk belajar.

Namun, meskipun masih sedikit yang mempelajari ilmu waris, penting bagi kaum Muslim untuk memahami hak dan kewajiban mereka dalam mengelola harta dan membagikannya dengan adil kepada ahli waris setelah mereka meninggal dunia. Untuk itu, perlu ada upaya untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan tentang ilmu waris di kalangan masyarakat Muslim.




Mempelajari Ilmu Waris Dianggap Tabu?

Masih terbatasnya ilmu waris, karena ada sebagian kaum Muslim yang menganggap tabu mempelajari ilmu waris, seolah-olah mereka yang belajar ilmu waris termasuk orang yang rakus harta warisan. Padahal anggapan itu tidak seratus betul. Berikut beberapa alasan mengapa ilmu waris masih dianggap tabu di antara kaum Muslim:

Kurangnya kesadaran

Banyak kaum Muslim yang tidak menyadari pentingnya ilmu waris dalam agama Islam, sehingga tidak tertarik untuk mempelajarinya.

Kerumitan

Ilmu waris dianggap rumit karena melibatkan banyak aspek hukum Islam, seperti ketentuan tentang pembagian warisan, perhitungan nisab, dan perhitungan bagi hasil. Hal ini membuat banyak orang merasa sulit untuk mempelajarinya.



Miskonsepsi

Beberapa orang mungkin menganggap ilmu waris sebagai sesuatu yang hanya relevan bagi orang yang sudah tua atau sedang mempersiapkan kematian. Padahal, ilmu waris sangat penting untuk semua orang yang memiliki harta dan keluarga.

Kurangnya guru yang berkualitas

Terkadang sulit untuk menemukan guru yang kompeten dalam ilmu waris, yang dapat membimbing dan mengajarkan dengan tepat.

Kurangnya informasi

Kurangnya akses informasi yang berkualitas tentang ilmu waris dapat membuat orang enggan untuk mempelajarinya.




Namun, saat ini semakin banyak organisasi dan lembaga di berbagai negara yang mulai mengkampanyekan pentingnya ilmu waris, sehingga diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya mempelajari ilmu waris.

BACA JUGA: Abdurrahman Bin Auf

Berdosakah Orang yang Membagi Harta Waris Tidak Berdasarkan Ilmu Waris?



Dalam pandangan agama Islam, membagi harta waris tanpa mengikuti ketentuan ilmu waris dapat dianggap sebagai perbuatan yang tidak adil dan bertentangan dengan syariat. Oleh karena itu, membagi harta waris tanpa memperhatikan ilmu waris dapat dianggap sebagai dosa.

Dalam Al-Quran surat An-Nisa ayat 58 disebutkan:

اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُكُمْ اَنْ تُؤَدُّوا الْاَمٰنٰتِ اِلٰٓى اَهْلِهَاۙ وَاِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ اَنْ تَحْكُمُوْا بِالْعَدْلِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهٖ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ سَمِيْعًاۢ بَصِيْرًا

 

Artinya: “Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk menyerahkan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan jika kalian memberikan putusan di antara manusia hendaklah kalian memberikan dengan adil. Sungguh, Allah sebaik-baik yang memberi pengajaran kepadamu. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Melihat.” Maka, membagi harta waris dengan cara yang tidak adil, bisa dikategorikan sebagai sebuah dosa karena melanggar perintah Allah dalam ayat tersebut.




Oleh karena itu, sangat penting bagi setiap Muslim untuk mempelajari ilmu waris dan membagi harta waris dengan cara yang adil dan sesuai dengan ketentuan syariat Islam. Sebab, membagi harta waris dengan cara yang benar akan membantu menjaga kerukunan keluarga serta mendapatkan pahala dari Allah.




Kapan Sebaiknya Harta Waris itu Mulai Dibagi?

Menurut hukum Islam, pembagian harta waris dapat dilakukan setelah terpenuhinya semua kewajiban terhadap orang yang meninggal, seperti pembayaran hutang, pembayaran wasiat (jika ada), dan pembayaran pengganti kafarat (jika ada).

Setelah itu, pembagian harta waris dapat dilakukan secepatnya. Tidak ada waktu yang ditentukan secara pasti dalam pembagian harta waris dalam agama Islam. Namun, sebaiknya pembagian harta waris dilakukan secara adil dan segera agar tidak menimbulkan perselisihan di antara ahli waris.




Selain itu, sebaiknya pembagian harta waris juga dilakukan dalam suasana yang tenang dan damai, serta setelah mempertimbangkan masukan dari ahli waris yang lain. Jika terdapat perbedaan pendapat dalam pembagian harta waris, sebaiknya diselesaikan secara musyawarah dan tidak menimbulkan perselisihan.




Dalil tentang Pembagian Harta Waris

Dalam agama Islam, dalil tentang warisan terdapat dalam Al-Qur’an Surat An-Nisa ayat 12:

وَلَكُمْ نِصْفُ مَا تَرَكَ اَزْوَاجُكُمْ اِنْ لَّمْ يَكُنْ لَّهُنَّ وَلَدٌ ۚ فَاِنْ كَانَ لَهُنَّ وَلَدٌ فَلَكُمُ الرُّبُعُ مِمَّا تَرَكْنَ مِنْۢ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُّوْصِيْنَ بِهَآ اَوْ دَيْنٍ ۗ وَلَهُنَّ الرُّبُعُ مِمَّا تَرَكْتُمْ اِنْ لَّمْ يَكُنْ لَّكُمْ وَلَدٌ ۚ فَاِنْ كَانَ لَكُمْ وَلَدٌ فَلَهُنَّ الثُّمُنُ مِمَّا تَرَكْتُمْ مِّنْۢ بَعْدِ وَصِيَّةٍ تُوْصُوْنَ بِهَآ اَوْ دَيْنٍ ۗ وَاِنْ كَانَ رَجُلٌ يُّوْرَثُ كَلٰلَةً اَوِ امْرَاَةٌ وَّلَهٗٓ اَخٌ اَوْ اُخْتٌ فَلِكُلِّ وَاحِدٍ مِّنْهُمَا السُّدُسُۚ فَاِنْ كَانُوْٓا اَكْثَرَ مِنْ ذٰلِكَ فَهُمْ شُرَكَاۤءُ فِى الثُّلُثِ مِنْۢ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُّوْصٰى بِهَآ اَوْ دَيْنٍۙ غَيْرَ مُضَاۤرٍّ ۚ وَصِيَّةً مِّنَ اللّٰهِ ۗ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌ حَلِيْمٌۗ

 

Artinya: “Dan bagianmu (suami-suami) adalah seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh istri-istrimu, jika mereka tidak mempunyai anak. Jika mereka (istri-istrimu) itu mempunyai anak, maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya setelah (dipenuhi) wasiat yang mereka buat atau (dan setelah dibayar) utangnya. Para istri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. Jika kamu mempunyai anak, maka para istri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan (setelah dipenuhi) wasiat yang kamu buat atau (dan setelah dibayar) utang-utangmu. Jika seseorang meninggal, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu) atau seorang saudara perempuan (seibu), maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, maka mereka bersama-sama dalam bagian yang sepertiga itu, setelah (dipenuhi wasiat) yang dibuatnya atau (dan setelah dibayar) utangnya dengan tidak menyusahkan (kepada ahli waris). Demikianlah ketentuan Allah. Allah Maha Mengetahui, Maha Penyantun.”




Dalam ayat tersebut, Allah SWT telah memberikan aturan yang jelas mengenai pembagian harta waris di antara ahli waris. Aturan tersebut ditegaskan berdasarkan keluarga, jenis kelamin, dan jumlah anak yang dimiliki oleh si pewaris. Selain itu, ayat ini juga menunjukkan pentingnya saling memberi dan memaafkan antar sesama manusia serta menyerukan kepada orang-orang yang berkecukupan untuk memberikan sebagian harta mereka kepada orang-orang yang membutuhkan.




Perbedaan antara Warisan, Wasiat, dan Hibah atau Hadiah

Warisan, wasiat, dan hibah atau hadiah adalah tiga konsep yang berbeda dalam hukum Islam.

Warisan:

Warisan adalah hak yang diberikan kepada ahli waris dari harta peninggalan seseorang setelah dia meninggal dunia. Warisan dibagi sesuai dengan ketentuan syariat Islam yang diatur dalam ilmu waris atau ilmu faraid. Warisan terbagi menjadi dua jenis, yaitu faraid dan wasiat.

Wasiat:

Wasiat adalah perintah atau permintaan yang dibuat oleh seseorang sebelum meninggal dunia tentang pembagian harta atau kepentingan lainnya. Dalam hukum Islam, wasiat hanya boleh dilakukan atas bagian dari harta yang tidak termasuk dalam bagian faraid. Wasiat juga harus memenuhi syarat-syarat tertentu, seperti tidak merugikan ahli waris dan tidak bertentangan dengan hukum Islam.



Hibah atau Hadiah:

Hibah atau hadiah adalah pemberian suatu harta secara sukarela oleh seseorang kepada orang lain selama masih hidup. Pemberian ini bisa dilakukan dengan tujuan untuk memberikan manfaat kepada orang lain atau untuk menghindari perselisihan dalam pembagian warisan di masa depan. Dalam hukum Islam, hibah atau hadiah juga harus memenuhi syarat-syarat tertentu, seperti diserahkan secara langsung dan sukarela oleh pemberi hibah, diterima oleh penerima dengan senang hati, dan tidak melanggar ketentuan hukum Islam.




Dalam kesimpulannya, warisan, wasiat, dan hibah atau hadiah adalah tiga konsep yang berbeda dalam hukum Islam. Warisan merupakan hak ahli waris atas harta peninggalan seseorang yang diatur dalam ilmu waris atau ilmu faraid. Wasiat adalah perintah atau permintaan yang dibuat oleh seseorang sebelum meninggal dunia, sementara hibah atau hadiah adalah pemberian harta secara sukarela selama masih hidup. Semua tiga konsep ini harus memenuhi syarat-syarat tertentu agar sah menurut hukum Islam. (*)




Kreator/Editor : Dezete

Image : nu online

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top
Scroll to Top